MEXICO CITY – Jibril Rajoub, Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, masih terkatung-katung di Meksiko sambil menunggu izin masuk ke Amerika Serikat untuk menghadiri Piala Dunia 2026. Ia sudah menghadiri laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan, namun belum bisa melanjutkan perjalanan ke AS karena masalah visa.
Rajoub bergabung dengan sejumlah orang yang sudah terakreditasi untuk Piala Dunia namun ditolak visa atau belum menerimanya dari pemerintah AS. “Saya tidak percaya bahwa ini adil. Menggunakan dan menyalahgunakan hak untuk menghalangi semua pesepak bola di dunia menghadiri acara ini,” ujarnya kepada Associated Press.
Meski timnas Palestina tidak lolos ke Piala Dunia, FIFA biasanya mengundang ketua asosiasi sepak bola dari seluruh dunia sebagai bentuk perayaan persatuan global. Presiden FIFA Gianni Infantino sempat berjanji tahun lalu bahwa semua pihak akan diterima di Kanada, Meksiko, dan AS. Namun kenyataannya, AS menolak masuk sejumlah delegasi, termasuk wasit dari Somalia dan fotografer yang mendampingi tim Irak.
Infantino mengakui FIFA sudah berupaya menyelesaikan masalah visa, tapi tidak bisa mengintervensi keputusan pemerintah AS. Departemen Luar Negeri AS belum memberi komentar soal visa Rajoub, namun tahun lalu mereka memberlakukan pembatasan baru bagi pemegang paspor Palestina, termasuk siapa pun yang pernah bekerja untuk Otoritas Palestina. Bahkan, visa Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menghadiri Sidang Umum PBB pada September lalu juga dicabut.
Dampak dan Konteks Lebih Luas: Kasus ini bukan sekadar masalah birokrasi. Rajoub dan ofisial sepak bola Palestina sudah lama mendesak FIFA menjatuhkan sanksi pada Israel karena membiarkan tim dari permukiman ilegal di Tepi Barat bermain di liga Israel. Mereka juga menyoroti pembatasan pergerakan pemain Palestina serta bagaimana perang Israel di Gaza telah merusak atau menghancurkan 80 persen fasilitas olahraga dan menewaskan sedikitnya 565 atlet. Bulan lalu, Rajoub menolak berjabat tangan dengan kepala federasi sepak bola Israel karena ia menilai gestur itu hanya akan menutupi tindakan Israel. Ia juga membandingkan situasi ini dengan Rusia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018, yang tidak menerapkan pembatasan visa serupa bagi undangan turnamen.