Gelombang serangan siber yang menyasar jaringan supermarket di sedikitnya 10 negara Eropa memicu kekhawatiran serius dari Uni Eropa. Para peretas dilaporkan membajak sistem pendingin (refrigerator dan freezer) di sejumlah gerai, menyebabkan suhu melonjak hingga mencapai 50 derajat Celsius. Akibatnya, pihak ritel terpaksa membuang stok makanan yang rusak karena tidak lagi layak konsumsi.
Negara-negara yang terdampak meliputi Belgia, Estonia, Finlandia, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, Jerman, dan Swedia. Insiden ini terjadi hanya tiga minggu setelah serangan serupa melumpuhkan sekitar 700 toko kelontong di Prancis, yang menimbulkan kerugian makanan hingga puluhan juta euro.
Komisioner Pertanian dan Pangan Uni Eropa, Christophe Hansen, menyatakan blok tersebut menanggapi insiden ini dengan sangat serius. Juru bicara Komisi Eropa, Thomas Regnier, menyoroti bahwa serangan ini menunjukkan bagaimana dunia maya dapat mengganggu layanan esensial dan kehidupan sehari-hari warga. Meski begitu, pihaknya belum menuduh aktor tertentu di balik serangan ini.
Di Italia, pemerintah Perdana Menteri Giorgia Meloni menggelar rapat dengan para kepala intelijen. Otoritas keamanan siber nasional Italia melaporkan setidaknya empat supermarket Co-op di Sisilia dan satu bisnis di Tuscany terdampak. Pemerintah Italia menilai dampaknya masih terbatas karena sebagian besar rantai distribusi pangan telah menggunakan sistem keamanan mutakhir, sementara bisnis yang terdampak umumnya masih memakai sistem usang.
Sementara itu, Belgia menjadi salah satu negara yang paling parah terdampak. Puluhan toko melaporkan kegagalan fungsi pendingin, dan Jaksa Federal Belgia telah membuka penyelidikan resmi. Seorang manajer supermarket Delhaize di Belgia mengaku syok dan prihatin melihat begitu banyak makanan harus dibuang akibat serangan ini.
Di Irlandia, sebanyak 13 gerai SuperValu terkena dampak insiden siber yang disebut oleh pemiliknya, Musgrave Group, sebagai gangguan sistem. Proses pengisian ulang stok makanan dingin dan beku di toko-toko terdampak dilaporkan sedang berlangsung.
Analisis: Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur pangan terhadap ancaman siber, terutama pada perangkat IoT (Internet of Things) seperti sistem pendingin yang terhubung internet. Serangan ini berpotensi memicu krisis pangan jangka pendek dan kerugian ekonomi besar, sekaligus menegaskan perlunya standar keamanan siber yang lebih ketat untuk sektor ritel dan distribusi pangan di seluruh Eropa.