London, Inggris - Harry Kane menjadi salah satu favorit kuat untuk meraih Ballon d'Or 2025. Penyerang Bayern Munich itu dijadwalkan menghadiri malam puncak penghargaan bergengsi tersebut di kota kelahirannya, London, pada Senin (22/9) waktu setempat.
Pencapaian Kane musim lalu terbilang luar biasa. Ia mencetak 73 gol untuk klub dan timnas, menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua dalam sejarah setelah Lionel Messi yang membukukan 82 gol pada 2010-2011. Meski begitu, persaingan tahun ini diprediksi sengit dan terbuka lebar.
Kane harus bersaing ketat dengan sejumlah nama besar. Ada duo Spanyol Lamine Yamal dan Rodri, kapten Prancis Kylian Mbappe, serta rekan setimnya di Bayern, Michael Olise. Berbeda dengan Yamal dan Mbappe yang aktif mengkampanyekan diri, Kane memilih bersikap tenang dan tidak ingin terbebani rumor yang beredar.
"Saya berusaha untuk tidak memikirkannya. Tentu saja itu sulit karena banyak rumor. Saya hanya ingin menikmati malam Senin nanti sebaik mungkin. Ini momen yang besar," ujar Kane, seperti dikutip dari laporan media internasional.
Kriteria penilaian Ballon d'Or mencakup performa individu, prestasi tim, dan sikap fair play. Kane memang unggul dalam hal statistik individu. Meski sempat diragukan karena belum meraih trofi besar bersama Tottenham, ia kini telah mengoleksi lima gelar bersama Bayern Munich. Namun, dominasi Bayern di Bundesliga mungkin menjadi catatan tersendiri bagi juri.
Di level timnas, Kane membawa Inggris finis ketiga di Piala Dunia dengan sumbangan enam gol dan satu assist. Catatan impresifnya berlanjut di Liga Champions, di mana ia mencetak gol dalam 10 pertandingan berturut-turut, hanya terpaut satu laga dari rekor Cristiano Ronaldo.
Analisis Dampak: Kemenangan Kane akan menjadi narasi sempurna bagi sepak bola Inggris, mengingat ia kembali ke London bukan sebagai pemain Tottenham, melainkan sebagai mesin gol Bayern Munich. Bagi masyarakat umum, persaingan ini menunjukkan bahwa kerja keras dan konsistensi mencetak gol masih menjadi faktor utama dalam penghargaan individu, meski trofi kolektif tetap menjadi pertimbangan penting.