PBB angkat bicara keras menanggapi aksi pengambilalihan paksa delapan rumah milik warga Palestina oleh pemukim Israel di Kota Jericho, Tepi Barat. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengungkapkan bahwa aksi pada Rabu (kemarin) tersebut berlangsung brutal. Para pemukim dilaporkan melepaskan tembakan peluru tajam, melakukan kekerasan fisik, hingga melempar batu ke arah warga.
Insiden ini memicu kepanikan massal. Puluhan warga terpaksa mengungsi demi menyelamatkan diri, sementara sebagian dari mereka kini terlantar tanpa tempat tinggal yang layak. Situasi makin sulit karena militer Israel langsung menutup area tersebut sebagai zona militer tertutup, sehingga petugas kemanusiaan tidak bisa menjangkau korban.
Berdasarkan laporan organisasi pengawas pemukiman Peace Now, aksi ini melibatkan sekitar 30 pemukim. Mereka tidak hanya mengusir warga, tapi juga menyerang dua aktivis Israel dan menembak kaki seorang pria Palestina. Klaim pemukim bahwa mereka membeli rumah tersebut secara legal dibantah keras oleh otoritas Palestina. Gubernur Jericho, Hussein Hamayel, menegaskan bahwa dokumen jual beli itu palsu dan tanah tersebut milik Otoritas Palestina.
Analisis Dampak: Kejadian di Jericho ini menambah daftar panjang kekerasan di Tepi Barat yang mencapai titik tertinggi tahun ini. Pola yang sama dikhawatirkan terulang seperti di Hebron, di mana kehadiran pemukim di tengah permukiman warga Palestina memicu gesekan konstan dan pembatasan kebebasan bergerak. Eskalasi ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga mempersulit upaya perdamaian dan bantuan kemanusiaan di lapangan.