IRAN SIAP NEGOSIASI DENGAN AS, ASALKAN ISRAEL HENTIKAN SERANGAN KE LEBANON - Berita Dunia
← Kembali

IRAN SIAP NEGOSIASI DENGAN AS, ASALKAN ISRAEL HENTIKAN SERANGAN KE LEBANON

Foto Berita

TEHERAN, IRAN – Iran menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan jalur diplomasi dengan Amerika Serikat, namun dengan satu syarat mutlak: Amerika harus memastikan Israel menghentikan agresinya terhadap Lebanon. Pernyataan tegas ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic pada Jumat (11/4).

Khatibzadeh menegaskan bahwa Teheran ingin proses diplomasi terus berjalan selangkah demi selangkah, asalkan Washington menunjukkan keseriusan dalam menghormati kesepakatan yang telah ditandatangani. "Kami siap bergerak maju, jika pihak lain menunjukkan keseriusan yang sama," ujarnya.

Pernyataan ini muncul setelah rencana pertemuan antara AS dan Iran di Swiss pada hari yang sama batal digelar. Wakil Presiden AS, JD Vance, juga membatalkan kunjungannya ke sana. Para mediator seperti Pakistan dan Qatar sebelumnya mengonfirmasi bahwa kedua pihak akan bertemu di Burgenstock untuk membahas sejumlah isu sesuai Nota Kesepahaman (MoU) yang baru ditandatangani pekan ini.

Pembatalan mendadak ini diduga kuat dipicu oleh eskalasi pertempuran sengit antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 47 orang tewas akibat serangan Israel sejak tengah malam.

Khatibzadeh mengecam keras serangan Israel di Lebanon. Ia memperingatkan bahwa "perang yang terus berlanjut" oleh Israel akan menimbulkan "konsekuensi serius dan segera". Ia menjelaskan bahwa Lebanon dimasukkan ke dalam MoU karena keterkaitan langsung konflik di kawasan. Pasal 1 MoU secara eksplisit menyebutkan bahwa mengakhiri perang di Lebanon adalah bagian integral dari gencatan senjata di semua lini.

"Tidak akan ada perdamaian atau stabilitas di Lebanon dan kawasan tanpa mengakhiri pendudukan dan komitmen Israel terhadap hukum internasional," tegas Khatibzadeh.

Di sisi lain, terkait Selat Hormuz, Iran berjanji akan terus menyediakan layanan navigasi sesuai hukum internasional dan tidak akan memungut biaya lintas selama 60 hari ke depan. Namun, mekanisme baru akan diperkenalkan setelahnya.

Analis menilai bahwa sikap Iran ini menunjukkan posisi tawar yang kuat di tengah fragmentasi kebijakan luar negeri AS. Dengan menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai prasyarat, Iran secara tidak langsung memperkuat poros perlawanan di kawasan. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menyatakan di platform X bahwa Israel tetap berkomitmen pada gencatan senjata segera jika Hizbullah menghormati kesepakatan. Situasi ini menempatkan AS di posisi sulit, karena harus menekan sekutunya (Israel) demi menjaga jalur diplomasi dengan Iran.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook