Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Foot-and-Mouth Disease (FMD) kembali menghantui Namibia. Virus ini tidak hanya menyerang kesehatan hewan ternak, tetapi juga melumpuhkan denyut nadi perekonomian rakyat, khususnya para pedagang daging di pasar tradisional.
Di Pasar Single Quarter, Windhoek, suasana yang biasanya riuh oleh pembeli kini berubah sunyi. Banyak lapak dan alat pemanggang daging (kapana) yang kosong. Para pedagang mengeluh karena mereka harus menutup usaha selama beberapa hari, tepat saat momen akhir bulan di mana biasanya pendapatan sedang tinggi-tingginya.
"Kami kesulitan membeli daging, tapi tanpa daging, kami tidak bisa bertahan hidup," ujar seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya. Harga daging yang melonjak drastis membuat keuntungan mereka kian menipis. Mereka khawatir jika kondisi ini berlanjut hingga tiga bulan ke depan, banyak pedagang kecil yang akan gulung tikar.
Kekhawatiran juga melanda warga di pemukiman Katutura. Bagi masyarakat Namibia, daging bukan sekadar lauk pauk, melainkan makanan pokok yang sulit digantikan. Di sisi lain, supermarket di daerah Okuryangava mulai mengalami kelangkaan stok daging sapi premium. Manajer toko, Enrico De Azevedo, menyebut fenomena panic buying mirip saat pandemi COVID-19, di mana warga membeli daging dalam jumlah besar untuk stok.
Pemerintah Namibia bergerak cepat. Direktorat Pelayanan Veteriner (DVS) melaporkan wabah ini pertama kali terdeteksi pada 23 September 2026 di sebuah peternakan komersial di Distrik Karasburg. Hingga awal Oktober, Presiden Netumbo Nandi-Ndaitwah melaporkan terdapat 127 kasus positif di 15 peternakan, dengan ribuan hewan telah diperiksa.
Untuk menekan penyebaran, pemerintah telah membangun 20 tim pengawasan dan 10 pos pemeriksaan jalan (roadblock). Namun, wabah kini telah menyebar ke wilayah utara. Pada 7 Oktober, laboratorium mengonfirmasi kasus PMK pada sapi di Pulau Kalala, wilayah Zambezi. Situasi ini menjadi pukulan berat bagi Namibia, mengingat ekspor ternak adalah tulang punggung ekonomi negara tersebut.