Harapan untuk mengakhiri konflik di Ukraina kembali menyala. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memastikan putaran kedua perundingan trilateral antara Kyiv, Moskow, dan Washington akan digelar di Abu Dhabi pekan ini, meski nasib gencatan senjata energi sementara masih di ujung tanduk.
Zelenskyy menegaskan, negaranya siap untuk diskusi substantif demi mencapai akhir perang yang nyata dan bermartabat. Pertemuan penting antara utusan Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina ini dijadwalkan berlangsung Rabu dan Kamis.
Namun, jalan menuju perdamaian sepertinya masih terjal. Perundingan pertama pada akhir Januari lalu mandek, terutama soal isu wilayah. Rusia bersikeras meminta Kyiv menyerahkan seperlima wilayah Donetsk yang masih mereka kuasai, sebuah tuntutan yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Zelenskyy.
Kondisi ini diperparah dengan ketidakjelasan gencatan senjata energi yang sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump. Ia mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin setuju menghentikan serangan target energi selama seminggu karena cuaca dingin ekstrem. Namun, detail kesepakatan ini simpang siur. Kremlin menyebut penghentian serangan hanya sampai Minggu, sementara Ukraina yakin seharusnya hingga Jumat berikutnya. Ketidakpastian ini tentu meresahkan warga Ukraina yang sistem energinya terus jadi sasaran empuk serangan di tengah musim dingin terdingin dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah kerumitan itu, sinyal positif datang dari Florida. Utusan AS Steve Witkoff melaporkan diskusi konstruktif dengan utusan Rusia Kirill Dmitriev. Pertemuan ini juga dihadiri oleh figur penting AS seperti Menteri Keuangan Scott Bessent, menantu Trump Jared Kushner, dan penasihat senior Gedung Putih Josh Gruenbaum. Witkoff merasa "terdorong" dengan pertemuan tersebut, mengindikasikan Rusia sedang berupaya menuju perdamaian di Ukraina.
Kendati demikian, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memberikan pandangan yang berbeda. Meski memuji Trump sebagai "pembawa perdamaian", Medvedev yang kini menjabat wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, menegaskan bahwa Rusia "akan segera" mencapai kemenangan militer di Ukraina. Pernyataan ini menunjukkan bahwa di balik meja perundingan, tujuan militer Rusia tetap menjadi prioritas utama. Menurutnya, tujuan kemenangan ini adalah untuk mencegah konflik baru, sebuah pandangan yang kontras dengan seruan damai sejati.
Belakangan, baik Ukraina maupun Rusia tidak melaporkan serangan besar pada infrastruktur energi. Namun, Zelenskyy menuding Rusia berupaya "menghancurkan logistik dan konektivitas antarkota dan komunitas" melalui serangan udara. Dampaknya langsung terasa di wilayah tenggara Ukraina, di mana serangan drone menghantam bangunan permukiman di kota Dnipro, menewaskan dua orang dan melukai enam lainnya.
Musim dingin ekstrem ini menambah parah penderitaan warga Ukraina yang terus hidup di bawah ancaman pemadaman listrik dan pemanas. Permintaan Rusia untuk mencaplok sebagian Donetsk tetap menjadi ganjalan besar, karena Ukraina menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak bisa ditawar. Sementara itu, upaya AS yang dipimpin Donald Trump sebagai 'peacemaker' patut dicermati, apakah ini benar-benar demi perdamaian jangka panjang atau lebih condong pada manuver politik. Pernyataan dari kubu Rusia seperti Medvedev pun mengindikasikan bahwa meskipun ada meja perundingan, target militer mungkin tetap menjadi prioritas.