Puluhan nyawa melayang tragis di sebuah lokasi tambang ilegal di Nigeria tengah. Sedikitnya 37 penambang tewas akibat keracunan gas karbon monoksida, sementara 25 lainnya dilarikan ke rumah sakit. Insiden memilukan ini terjadi di Komunitas Kampani, wilayah Wase, Negara Bagian Plateau, pada Rabu pagi.
Tragedi ini berawal ketika penduduk desa yang berprofesi sebagai penambang nekat masuk ke terowongan tambang timbal yang sudah tak beroperasi. Mereka dilaporkan tidak menyadari bahwa akumulasi mineral di dalam tambang telah melepaskan gas mematikan. Pemerintah Negara Bagian Plateau telah mengidentifikasi lokasi sebagai tambang timbal 'mati' yang mengeluarkan asap beracun, menyebabkan korban berjatuhan. Pihak keamanan kini telah menutup lokasi kejadian untuk mencegah akses lebih lanjut dan memulai investigasi komprehensif.
Menteri Mineral Padat Nigeria, Dele Alake, memerintahkan penangguhan segera seluruh aktivitas penambangan di area sekitar lokasi kecelakaan. Hal ini menyoroti kembali masalah kronis penambangan ilegal yang merajalela di Nigeria, di mana operasi penambangan kerap tanpa pengawasan pemerintah dan minim protokol keselamatan dasar. Wilayah Plateau sendiri secara historis dikenal sebagai daerah pertambangan, dengan ibu kotanya, Jos, dijuluki 'Kota Timah', meskipun aktivitas tambang telah melambat dalam beberapa tahun terakhir.
Insiden ini menambah daftar panjang bencana tambang di Nigeria dan di seluruh benua Afrika. Tahun lalu, setidaknya 18 orang tewas di Negara Bagian Zamfara setelah bongkahan batu menimpa tambang ilegal. Di bulan sebelumnya, sekitar 200 orang meninggal dunia akibat longsor di tambang koltan Rubaya di Republik Demokratik Kongo. Rentetan tragedi ini menjadi pengingat pahit akan bahaya yang terus membayangi para penambang, baik dalam operasi legal maupun ilegal, demi mengejar kekayaan mineral berharga seperti koltan yang sangat dibutuhkan untuk komponen ponsel dan komputer.