Sebuah analisis tajam kembali menyoroti janji-janji 'kebebasan' yang kerap digaungkan negara-negara Barat di Timur Tengah. Alih-alih membawa kemerdekaan sejati, janji-janji itu disebut hanyalah kedok untuk ambisi kontrol, dominasi, dan keuntungan semata. Pernyataan ini bukan isapan jempol, setelah insiden tragis serangan udara terhadap sebuah sekolah dasar putri di kota Minab, Iran selatan.
Menurut laporan terbaru, sekitar 170 anak perempuan berusia 6-12 tahun dan staf sekolah tewas akibat serangan dua rudal Tomahawk buatan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu. Ironisnya, serangan tersebut menargetkan Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh, mirip dengan pola serangan yang berulang kali terjadi di Gaza, Palestina. UNICEF bahkan mencatat, rata-rata satu kelas penuh anak-anak di Gaza tewas setiap harinya selama dua tahun terakhir, dengan 432 dari 564 sekolah di sana mengalami 'serangan langsung' dari tentara Israel.
Yang membuat pilu, serangan di Minab menggunakan taktik 'double-tap strike', sebuah horor perang modern yang sangat dikenal warga Gaza. Ini berarti setelah serangan pertama, bom kedua sengaja dijatuhkan untuk menargetkan para penolong atau tim medis yang datang untuk menyelamatkan korban. Mohamad Maljoo, seorang disiden Iran, menegaskan bahwa bom tidak memilih target; kehancuran tidak beroperasi secara selektif. 'Hidup tidak berkembang di bawah bayang-bayang penindasan. Ia juga tidak tumbuh di bawah puing-puing bom,' tulisnya.
Analisis ini memperkuat pandangan bahwa campur tangan Barat seringkali berujung pada penderitaan sipil yang tak terhindarkan, terutama anak-anak. Insiden ini bukan hanya soal kehancuran fisik, tetapi juga meruntuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Tragedi ini sekaligus menimbulkan pertanyaan besar tentang motif di balik setiap intervensi asing di wilayah konflik, apakah benar demi kebebasan ataukah sekadar meneguhkan kepentingan geopolitik semata.