Perjanjian New START, satu-satunya pakta pengendalian senjata nuklir yang tersisa antara Amerika Serikat dan Rusia, akan berakhir pekan ini. Ini bisa jadi awal era baru yang lebih berbahaya bagi stabilitas global, di mana kendali atas arsenal nuklir raksasa kedua negara adidaya itu tak lagi memiliki mekanisme pengawasan transparan.
Perjanjian yang ditandatangani Barack Obama dan Dmitry Medvedev pada 2010 ini bertujuan membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan kedua negara. New START adalah kelanjutan dari perjanjian sebelumnya dan sempat diperpanjang pada 2021 di era Presiden Joe Biden. Fungsinya krusial untuk menjaga transparansi dan membatasi potensi kehancuran dari senjata atom yang dimiliki AS dan Rusia, dua negara yang secara kolektif menguasai sekitar 90 persen total hulu ledak nuklir di dunia.
Namun, pakta penting ini sudah goyah sejak lama. Inspeksi langsung ke lokasi nuklir oleh kedua belah pihak terhenti sejak pandemi COVID-19 pada Maret 2020 dan tak pernah dilanjutkan. Puncaknya, pada 2023, Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi menangguhkan partisipasi negaranya dari perjanjian tersebut. Putin beralasan penangguhan itu terkait dengan dukungan Washington untuk Ukraina dalam perang yang kini berlangsung empat tahun. Akibatnya, mekanisme berbagi data dan inspeksi bersama terhenti, membuat kedua negara bergantung pada intelijen masing-masing untuk menilai kepatuhan.
Kedaluwarsanya New START tanpa adanya perjanjian baru atau perpanjangan, berarti hilangnya mekanisme kontrol penting. Tanpa pengawasan bersama dan berbagi data, kepercayaan antarnegara adidaya nuklir ini akan semakin terkikis. Analis khawatir kondisi ini bisa memicu perlombaan senjata nuklir baru yang tidak terkendali, meningkatkan risiko konflik global, dan membuat dunia lebih tidak aman. Di tengah ketegangan geopolitik saat ini, terutama dengan konflik di Ukraina dan situasi global yang memanas, berakhirnya perjanjian ini menjadi sinyal buruk bagi upaya perdamaian dan keamanan internasional yang sangat rapuh.