Jakarta, Media Online – Militer Israel kembali mengambil alih Benteng Beaufort, sebuah kastil peninggalan Perang Salib berusia 900 tahun di Lebanon selatan. Langkah ini diumumkan pada Minggu (13/10) di tengah eskalasi serangan terhadap kelompok Hizbullah, sekaligus melanggar gencatan senjata yang sudah rapuh.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukannya kini mengibarkan bendera di puncak benteng yang menghadap pemukiman Galilea. "Prajurit heroik kami telah merebut Beaufort lagi dan akan bertahan di sana sebagai bagian dari zona keamanan di Lebanon," ujarnya, dikutip dari The Times of Israel.
Benteng yang dalam bahasa Arab disebut Qalaat al-Shaqif ini bukan sekadar situs sejarah. Letaknya di atas bukit setinggi 700 meter, menjadikannya titik observasi sempurna. Dari sini, mata telanjang bisa mengawasi pergerakan dari Lembah Bekaa barat hingga Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Apa Dampaknya?
Penguasaan benteng ini memberikan Israel keuntungan taktis besar. Al Jazeera melaporkan, posisi ini memungkinkan militer Israel mengawasi seluruh kota dan desa di sekitar Nabatieh, kota terbesar kelima di Lebanon. "Ini ancaman serius. Masyarakat sipil khawatir operasi akan meluas lebih dalam," kata koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, dari Tirus.
Secara historis, benteng ini sudah beberapa kali berganti tangan—dari Tentara Salib, Ottoman, hingga pernah direbut Israel saat invasi 1982. Israel mundur pada 2000, tapi kini kembali dengan dalih membongkar infrastruktur Hizbullah. Analis militer menilai langkah ini justru memicu eskalasi baru di kawasan yang sudah panas.