MENGAPA AS DAN IRAN TAK PERNAH AKUR? INI AKAR MASALAHNYA - Berita Dunia
← Kembali

MENGAPA AS DAN IRAN TAK PERNAH AKUR? INI AKAR MASALAHNYA

Foto Berita

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran hingga kini masih terjebak dalam kebuntuan diplomatik yang rumit. Meski berbagai inisiatif negosiasi telah dilakukan sejak perang dimulai, termasuk penandatanganan memorandum pemahaman di Islamabad pada 18 Juni lalu, hasilnya selalu berujung pada kegagalan dalam hitungan hari.

Sejumlah pengamat biasanya menyoroti detail teknis perjanjian sebagai penyebab kegagalan. Namun, ada faktor psikologis yang lebih dalam dan telah mengakar selama bertahun-tahun: sindrom hubungan AS-Iran. Sindrom ini terbentuk dari dua kompleks psikologis yang saling mengunci.

Kompleks Washington lahir dari peristiwa pengepungan Kedutaan Besar AS di Tehran pada 1979. Insiden penyanderaan 52 warga Amerika selama 444 hari itu membentuk persepsi di AS bahwa Iran adalah negara yang tidak menghormati norma internasional dan tidak bisa dipercaya. Akibatnya, muncul aturan tidak tertulis dalam pengambilan keputusan AS: Iran harus memberi konsesi terlebih dahulu, dan konsesi itu harus terverifikasi, sebelum AS memberikan imbalan apa pun.

Kompleks Tehran berakar pada sejarah panjang intervensi AS, dimulai dari kudeta tahun 1953 yang menggulingkan PM Mohammad Mosaddegh setelah nasionalisasi industri minyak. Peristiwa ini menanamkan keyakinan di benak Iran bahwa Washington tidak akan pernah menerima pemerintahan independen di Tehran. Puncaknya terjadi pada Mei 2018 ketika Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir JCPOA, padahal IAEA telah mengonfirmasi kepatuhan Iran. Dua minggu kemudian, Menlu Mike Pompeo mengumumkan 12 tuntutan baru, yang semakin memperkuat rasa tidak percaya Iran terhadap AS.

Kedua kompleks ini menciptakan lingkaran setan: AS menuntut Iran bergerak duluan, sementara Iran menolak bergerak sebelum AS membuktikan itikad baiknya. Dampaknya bagi masyarakat global adalah ketegangan yang tak kunjung reda di kawasan Timur Tengah, fluktuasi harga minyak dunia, dan terhambatnya kerja sama internasional di bidang nuklir. Tanpa terapi terhadap sindrom psikologis ini, negosiasi apa pun berpotensi hanya menjadi formalitas tanpa hasil nyata.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook