Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran makin meruncing. Perang kata-kata dari kedua belah pihak memanas, ditambah pengerahan kapal induk AS ke perairan strategis yang dekat dengan Timur Tengah. Iran menegaskan siap membalas dengan segala cara jika diserang, sementara Presiden Donald Trump mengancam akan 'menghapus' Iran dari peta jika berani melukai pemimpin AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan peringatan keras tersebut melalui artikel opini di The Wall Street Journal. 'Pasukan bersenjata kami yang kuat tak akan ragu membalas dengan segala yang kami miliki jika kami diserang lagi,' tulis Araghchi. Ia menyebut ini bukan ancaman, melainkan kenyataan yang perlu disampaikan, karena sebagai diplomat dan veteran, ia 'membenci perang'. Araghchi juga memperingatkan bahwa konfrontasi habis-habisan pasti akan brutal dan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan Israel dan sekutunya. Dampaknya, kata dia, akan meluas ke seluruh kawasan dan dirasakan masyarakat global.
Pernyataan Araghchi ini muncul sehari setelah Presiden Trump kembali mengancam Iran. 'Jika ada sesuatu yang terjadi, mereka (Iran) akan dihapus dari muka bumi ini,' kata Trump dalam wawancara dengan News Nation. Ancaman ini spesifik terkait upaya pembunuhan pemimpin AS. Jenderal Iran Abolfazl Shekarchi pun tak tinggal diam. Ia mengatakan Trump tahu betul Iran tidak akan menahan diri jika pemimpin mereka diserang. 'Jika tangan agresi diarahkan kepada pemimpin kami, kami tidak hanya akan memotong tangan itu... tapi kami akan membakar dunia mereka dan tidak meninggalkan tempat berlindung yang aman bagi mereka di wilayah tersebut,' lapor media pemerintah Iran mengutip Shekarchi.
Di tengah panasnya situasi ini, kapal induk USS Abraham Lincoln terpantau melintas Selat Malaka pada Selasa lalu. Data pelacakan kapal menunjukkan, kapal induk yang sebelumnya berada di Laut Cina Selatan ini kini menuju Samudra Hindia, hanya beberapa hari perjalanan dari kawasan Timur Tengah. Meski pejabat pertahanan AS belum secara gamblang menyatakan tujuan pasti kapal induk tersebut ke Timur Tengah, posisi strategisnya jelas meningkatkan kekhawatiran banyak pihak. Minggu lalu, Iran bahkan menutup wilayah udaranya, kemungkinan mengantisipasi serangan AS.
Para diplomat dari negara-negara Timur Tengah, khususnya negara-negara Arab Teluk, telah berupaya melobi Trump agar tidak melancarkan serangan. Kondisi internal Iran sendiri sedang bergejolak, setelah dihantam oleh gelombang protes anti-pemerintah terbesar sejak revolusi Islam 1979. Kelompok hak asasi manusia sedang menyelidiki jumlah korban tewas akibat kekerasan dalam protes tersebut.