Kelompok teroris ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan di pangkalan udara militer Niger. Insiden ini terjadi di tengah memanasnya tudingan dari pemimpin junta Niger terhadap sejumlah negara, termasuk Prancis, yang disebut terlibat di balik kekacauan ini.
Amaq News Agency, media afiliasi ISIS, melaporkan pada Jumat lalu bahwa mereka melancarkan “serangan kejutan dan terkoordinasi” di pangkalan udara yang berada di Bandara Internasional Diori Hamani, dekat ibu kota Niamey. Klaim ini menyebut kerusakan signifikan terjadi. Pemerintah militer Niger, yang berkuasa lewat kudeta 2023, memastikan 20 penyerang tewas dalam baku tembak sengit setelah serangan terjadi tak lama setelah tengah malam Kamis. Empat tentara Niger juga dilaporkan terluka.
Serangan ini menambah daftar panjang kekerasan di Niger, negara yang selama satu dekade terakhir terus berjuang melawan kelompok afiliasi ISIS di Sahel (EIS) dan kelompok terkait Al-Qaeda (JNIM). Ironisnya, klaim ISIS ini muncul setelah Jenderal Abdourahamane Tiani, pemimpin militer Niger, justru menuduh Prancis, Benin, dan Pantai Gading sebagai pihak yang mensponsori serangan tersebut, meski tanpa bukti kuat. Tiani bahkan terang-terangan berterima kasih kepada pasukan Rusia yang ditempatkan di pangkalan tersebut karena telah “mempertahankan sektor mereka”, menggarisbawahi makin eratnya hubungan Niger dengan Moskow. Tuduhan Tiani ini langsung dibantah oleh Benin.
Bandara Niamey sendiri bukan sembarang lokasi. Selain menjadi pangkalan militer, tempat ini juga markas bagi Pasukan Gabungan Niger-Burkina Faso-Mali yang dibentuk oleh negara-negara di bawah pemerintahan militer ini dalam wadah Aliansi Negara-negara Sahel (AES). Aliansi ini secara terang-terangan menjauh dari pengaruh Barat, terutama Prancis, dan kini berbalik merapat ke Rusia yang menawarkan dukungan militer. Yang tak kalah penting, bandara ini juga menjadi lokasi cadangan uranium dalam jumlah besar, sebuah komoditas strategis yang sempat memicu sengketa nasionalisasi dengan perusahaan nuklir Prancis, Orano. Laporan tak berdasar dari televisi pemerintah Niger menyebutkan salah satu penyerang yang tewas adalah warga Prancis, semakin memperkeruh suasana.
Insiden ini bukan hanya soal klaim teror, melainkan cerminan dari gejolak geopolitik yang lebih besar di wilayah Sahel. Dengan Niger sebagai produsen uranium kunci dan posisinya yang strategis di Afrika Barat, ketidakstabilan ini berpotensi memiliki dampak jauh lebih luas, mulai dari keamanan regional hingga dinamika kekuatan global antara Barat dan Rusia. Masyarakat internasional patut mencermati perkembangan ini agar tidak berujung pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang lebih parah.