Teheran sedang bergolak! Otoritas Iran baru-baru ini meringkus empat tokoh penting, termasuk tiga politisi reformis terkemuka. Mereka dituding berupaya mengganggu stabilitas negara dan bekerja untuk kepentingan Amerika Serikat serta Israel. Penangkapan ini datang di tengah isu ancaman militer dari negara-negara tersebut dan luka lama ribuan kematian akibat protes besar Januari lalu.
Empat individu itu ditahan pada Minggu, menyusul tuduhan berat dari pihak kehakiman Iran yang dimuat kantor berita Mizan. Tiga di antaranya adalah nama-nama besar di kancah politik reformis: Azar Mansouri, Ketua Front Reformis Iran; Mohsen Aminzadeh, mantan diplomat; dan Ebhrahim Asgharzadeh, mantan anggota parlemen. Identitas satu orang lainnya tidak diungkapkan.
Front Reformis Iran sendiri membenarkan penangkapan Azar Mansouri yang diciduk langsung dari rumahnya oleh pasukan intelijen Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) atas perintah pengadilan. Tak hanya itu, IRGC juga memanggil beberapa anggota senior lainnya, termasuk wakil ketua Mohsen Armin dan sekretaris Badral Sadat Mofidi.
Penangkapan ini bukan sekadar insiden biasa. Ini terjadi di tengah ketegangan tinggi di Iran, menyusul gejolak protes anti-pemerintah besar-besaran pada Januari yang menelan ribuan korban jiwa. Protes yang mulanya dipicu krisis ekonomi di Teheran itu dengan cepat meluas menjadi gerakan nasional. Pemerintah Iran saat itu melabeli demonstran sebagai "teroris" dan menuding adanya campur tangan asing dari Israel dan AS sebagai biang kerok "kerusuhan".
Data pemerintah menyebut 3.117 orang tewas, namun angka ini jauh berbeda dengan laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS, yang memverifikasi 6.854 kematian dan masih menyelidiki ribuan kasus lainnya. Ribuan orang juga ditangkap dalam kerusuhan tersebut.
Tokoh-tokoh yang ditangkap kali ini bukan orang baru di panggung politik Iran. Mohsen Aminzadeh pernah menjabat wakil menteri luar negeri di era Presiden Mohammad Khatami (1997-2005), sementara Ebhrahim Asgharzadeh adalah mantan anggota parlemen yang juga merupakan pemimpin mahasiswa dalam insiden pendudukan Kedutaan Besar AS pada 1979. Reporter Al Jazeera Tohid Asadi dari Teheran menyebut, mereka menghadapi tuduhan serius dan memiliki riwayat panjang aktivitas politik serta penahanan. Ini mengindikasikan bahwa penangkapan ini bisa jadi babak baru dalam tindakan keras pemerintah Iran terhadap suara-suara reformis, terutama saat negara menghadapi apa yang mereka sebut "ancaman militer" dari AS dan Israel. Kondisi ini memperlihatkan upaya Teheran untuk memperkuat kendali di tengah tekanan internal dan eksternal.