Washington, DC – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik serangan Israel di Lebanon. Dalam pernyataan yang jarang terjadi, Trump menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar lebih bertanggung jawab dan menghentikan taktik militer yang dinilainya terlalu brutal.
Kritik ini muncul setelah Israel terus membombardir Lebanon, meskipun Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru saja menandatangani kesepakatan gencatan senjata. Trump menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran terhadap perjanjian yang sudah disepakati bersama. “Terlalu banyak orang tewas. Kalian tidak perlu merobohkan satu gedung apartemen setiap kali mencari seseorang,” ujar Trump dalam KTT G7 di Prancis, Selasa (18/6).
Data terbaru menunjukkan hampir 4.000 orang tewas dan 1,2 juta warga Lebanon mengungsi akibat agresi Israel. Militer Israel kini menguasai sekitar 20 persen wilayah Lebanon dan Netanyahu berkeras tidak akan menarik pasukan. Sikap ini jelas bertolak belakang dengan isi perjanjian damai yang baru diteken AS-Iran.
Menariknya, sejarah mencatat bahwa pertikaian sengit antara pemimpin AS dan Israel tidak pernah benar-benar mengubah kebijakan Washington. Saat Barack Obama menjabat, ia juga berselisih dengan Netanyahu soal kesepakatan nuklir Iran 2015. Namun, alih-alih menjatuhkan sanksi, AS justru memberikan paket bantuan militer terbesar dalam sejarah senilai 38 miliar dolar AS kepada Israel.
Analis politik menilai teguran Trump ini lebih bersifat retorika ketimbang perubahan sikap. Dukungan militer dan politik AS terhadap Israel diperkirakan tetap solid. “Publik AS mungkin melihat adanya keretakan, tapi di balik layar, kerja sama intelijen dan pasokan senjata terus mengalir,” ujar seorang pengamat Timur Tengah.