Peringatan keras untuk Presiden Donald Trump! Ribuan warga Amerika Serikat, didukung aktivis internasional, turun ke jalan dalam gelombang ketiga demonstrasi 'No Kings'. Protes ini bukan sekadar penolakan biasa, tapi sorotan tajam terhadap kebijakan Trump, termasuk dugaan kekerasan aparat imigrasi dan keterlibatan AS dalam perang melawan Iran. Akankah gerakan ini mengubah peta politik jelang pemilu sela November nanti?
Gelombang protes 'No Kings' kembali mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu lalu, menandai demonstrasi ketiga sejak Donald Trump menjabat untuk periode kedua. Uniknya, kali ini gerakan tersebut juga menjadi respons perdana sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang melawan Iran sebulan yang lalu.
Lebih dari 3.300 acara digagas di seluruh 50 negara bagian AS, dengan fokus tak hanya di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington D.C., tapi juga di area-area yang secara tradisional cenderung konservatif. Hal ini menunjukkan ambisi gerakan untuk menjangkau basis pemilih yang lebih luas. Bahkan, aksi serupa juga bergema di kancah internasional, seperti di Roma, Paris, dan Berlin.
Pusat perhatian utama protes kali ini adalah wilayah Minneapolis-St Paul, Minnesota. Area ini pernah menjadi lokasi 'Operation Metro Surge' pada Desember lalu, operasi penumpasan imigran oleh pemerintahan Trump. Tragisnya, operasi tersebut dituding menggunakan kekuatan berlebihan dan menewaskan dua warga AS, Alex Pretti dan Renee Nicole Good, pada Januari. Kematian ini memicu kemarahan nasional dan puluhan gugatan hukum.
Dalam demonstrasi Sabtu, para pengunjuk rasa mengenang dua korban tersebut dengan serangkaian pidato, konser, dan penampilan dari aktivis, pemimpin buruh, serta politisi. Senator progresif Bernie Sanders dijadwalkan hadir, ditemani ikon rock Bruce Springsteen dan penyanyi folk legendaris Joan Baez yang siap memanaskan panggung.
Sebelumnya, dua gelombang protes 'No Kings' pada Juni dan Oktober berhasil menarik jutaan peserta. Respons Presiden Trump pada protes Oktober lalu pun cukup kontroversial, dengan unggahan video AI yang menggambarkan dirinya membuang kotoran pada demonstran.
Aksi massa ini berlangsung di tengah sengitnya kampanye pemilihan sela (midterm elections) yang akan digelar November mendatang. Partai Republik pimpinan Trump saat ini sedang berjuang mempertahankan mayoritas mereka di dua kamar Kongres. Protes 'No Kings' ini jelas menjadi tekanan signifikan, berpotensi memengaruhi opini publik dan hasil pemilu sela, terutama terkait isu imigrasi dan kebijakan luar negeri yang memanas.