JAKARTA - Kabar soal kekacauan di pemerintahan Donald Trump rupanya sengaja dibesar-besarkan. Publik dibuat heboh dengan pencopotan Katie Zacharia yang cuma menjabat sebagai juru bicara Gedung Putih selama lima hari. Meski terkesan chaotic, sejarah mencatat pergantian staf di periode kedua kepemimpinan Presiden AS memang kerap bergejolak.
Dikutip dari laporan media internasional, Zacharia bukanlah sosok yang berhasil menduduki kursi juru bicara dalam waktu lama. Selama menjabat, berita terbesar yang ia sampaikan justru soal pemecatan Kimberly Guilfoyle dari posisi Duta Besar untuk Yunani. Isu yang beredar, Menteri Perang Pete Hegseth kini masuk daftar incaran untuk dicopot. Pasalnya, Trump menolak rencana Hegseth yang ingin menyiarkan secara langsung eksekusi mati terpidana terorisme, Nidal Hasan.
Jika ditarik ke belakang, gejolak di kursi kepresidenan AS bukan hal baru. Pada era George W. Bush, Scott McClellan dipecat sebagai juru bicara setelah tiga tahun mengabdi. Sementara itu, Ronald Reagan harus menghadapi skandal Iran-Contra, Bill Clinton diterpa skandal Monica Lewinsky, dan Richard Nixon bahkan harus menghadapi impeachment di periode keduanya. Pergantian staf di Gedung Putih dianggap lumrah, terlebih saat situasi politik sedang memanas dan hasil survei memburuk menjelang pemilu sela.
Meski begitu, publik diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa pencopotan Zacharia adalah tanda krisis serius. Sebab, rekam jejak Zacharia sendiri terbilang singkat. Ia sempat bekerja di bagian media Kementerian Keamanan Dalam Negeri (DHS) saat dijabat Kristi Noem. Ia juga bukan bagian dari tim kampanye pemilihan ulang Trump, sehingga publik mempertanyakan bagaimana ia bisa mendapatkan posisi strategis tersebut. Di sisi lain, pemerintahan Trump saat ini memang tengah menghadapi tantangan berat, mulai dari perang AS-Israel melawan Iran hingga lonjakan harga energi. Namun, pergantian jubir dinilai bukan indikator utama krisis pemerintahan.