KAIRO, INDONESIA - Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi baru-baru ini mengejutkan publik dengan pernyataannya yang menyatakan tidak akan mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat. Ia menegaskan akan meninggalkan kursi kepresidenan setelah periode ketiganya berakhir pada April 2030 mendatang.
Pernyataan ini disampaikan El-Sisi saat menghadiri upacara kelulusan di Akademi Militer Mesir. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa keputusannya untuk tidak melanjutkan kekuasaan adalah hal yang final dan konstitusi tidak akan diutak-atik demi kepentingan pribadinya. Sebelumnya, banyak pengamat menduga kuat El-Sisi akan mengubah konstitusi agar bisa terus berkuasa, mengingat rekam jejak politiknya.
Namun, pengumuman ini memicu berbagai spekulasi di kalangan analis politik. Sebagian pihak menilai langkah ini sebagai strategi untuk meredam potensi intervensi militer jika kondisi ekonomi terus memburuk. Mesir saat ini menghadapi tekanan fiskal yang berat, dengan utang negara mencapai 81 persen dari PDB dan nilai mata uang Pound Mesir yang anjlok lebih dari 80 persen sejak 2014.
Selain itu, ada kemungkinan El-Sisi ingin menghindari nasib buruk yang menimpa pemimpin otoriter lainnya jika ia lengser. Dengan mundur secara sukarela, ia berharap dapat menghindari tuntutan hukum atas dugaan pelanggaran HAM di masa lalu, termasuk penindasan terhadap aktivis dan jurnalis.
Meski begitu, publik masih ragu mengingat sejarah El-Sisi yang pernah mengingkari janji politiknya di tahun 2013 dan 2017. Banyak yang menduga pernyataan ini hanyalah taktik untuk memancing dukungan rakyat agar memohon dirinya tetap menjabat, atau sebagai cara untuk mengamankan posisi politiknya di masa transisi.