Harapan perdamaian di Republik Demokratik Kongo (DRC) kembali mendapat pukulan telak. Mantan Presiden Joseph Kabila resmi bergabung dengan koalisi politik-militer baru yang menantang pemerintahan Presiden Felix Tshisekedi. Koalisi bernama Front pour la Refondation de la Nation (FRN) ini diumumkan di Goma, Senin malam, dan menggantikan aliansi sebelumnya antara Alliance Fleuve Congo (AFC) dan gerakan M23.
Langkah Kabila ini membawa mantan kepala negara langsung masuk ke jantung pemberontakan. FRN menuduh Tshisekedi melakukan tirani dan menyerukan perlawanan dengan segala cara, termasuk kekerasan. Goma, kota utama di Provinsi Kivu Utara, memang sudah dikuasai M23-AFC sejak Januari tahun lalu.
Konflik berkepanjangan ini telah membuat jutaan orang mengungsi dan menyeret negara-negara tetangga. Akarnya sangat rumit: persaingan regional, masalah keamanan yang tak kunjung usai, hingga perebutan wilayah dan sumber daya mineral. Buntut genosida Rwanda 1994 silam juga turut memicu perang di kawasan, sementara ketegangan antara Kinshasa dan Kigali terus memanaskan situasi. M23 beralasan angkat senjata karena pemerintah Kongo dianggap ingkar janji. Sementara itu, pemerintah Kongo dan dunia internasional menuduh Rwanda mendukung kelompok tersebut—tuduhan yang dibantah Kigali dengan alasan ancaman keamanan dari kelompok bersenjata di Kongo timur.
Warga Goma, seperti Basa Juhudi, mengaku sangat khawatir. Ia menilai pengalaman politik Kabila membuat keterlibatannya semakin berbahaya. "Fakta bahwa Joseph Kabila bergabung dengan pemberontakan, mengingat dia mantan presiden dan sangat memahami negara ini, berarti perang masih jauh dari kata usai," ujarnya kepada Al Jazeera. Juhudi juga takut masa depan demokrasi Kongo hancur, padahal ia sempat bangga dengan transfer kekuasaan damai pada 2019 lalu.
Kabila sendiri berkuasa sejak 2001 setelah ayahnya, Laurent-Desire Kabila, dibunuh. Ia terpilih pada 2006 dan kembali menang di 2011. Masa jabatan konstitusional keduanya seharusnya berakhir pada 2016, tetapi ia bertahan hingga akhirnya Tshisekedi menggantikannya. Kini, dengan Kabila memimpin pemberontakan, masa depan perdamaian Kongo semakin tak pasti.