ATURAN BARU OLIMPIADE: TES GEN BIKIN TRANSGENDER TERUSIR? - Berita Dunia
← Kembali

ATURAN BARU OLIMPIADE: TES GEN BIKIN TRANSGENDER TERUSIR?

Foto Berita

Komite Olimpiade Internasional (IOC) membuat keputusan mengejutkan yang akan mengubah wajah kompetisi di Olimpiade Los Angeles 2028 mendatang. Mulai ajang tersebut, atlet wanita transgender resmi dilarang bertanding dalam kategori putri. Kebijakan baru ini mengharuskan atlet wanita menjalani tes genetik satu kali untuk mengidentifikasi gen SRY, penanda pengembangan jenis kelamin laki-laki.

Langkah IOC ini sontak memicu beragam reaksi. Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menyebut keputusan ini sebagai "langkah mundur" dan memperingatkan adanya masalah etika, hukum, serta ilmiah yang serius. Ferrari juga menyoroti bahwa tes genetik semacam ini sebelumnya sudah dihentikan pada tahun 1999 karena keraguan komunitas ilmiah akan relevansinya. Menurut Prancis, kebijakan ini berisiko merusak kesetaraan karena secara khusus menargetkan wanita dan gagal mencerminkan keragaman biologis, khususnya individu interseks.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru memuji keputusan IOC. Melalui platform Truth Social, Trump mengklaim pelarangan ini adalah hasil dari perintah eksekutif kuat yang ia keluarkan pada Februari 2025 untuk "membela wanita dan anak perempuan". Sementara itu, Komite Olimpiade Selandia Baru (NZOC) melihat kebijakan baru ini akan membawa "kejelasan" dan "keadilan" yang lebih besar di ajang Olimpiade mendatang. Ketua Eksekutif NZOC, Nicki Nicol, menyebut bahwa kebijakan ini telah melalui konsultasi ekstensif dan masukan ahli, terutama dari para atlet.

Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam perdebatan panjang mengenai inklusi atlet transgender dalam olahraga kompetitif. Di satu sisi, pendukung kebijakan ini menekankan pentingnya keadilan dan menjaga integritas kategori olahraga putri agar tetap kompetitif bagi atlet wanita biologis. Mereka berargumen adanya keuntungan fisik yang signifikan pada individu yang lahir sebagai laki-laki. Namun, di sisi lain, penentang kebijakan, seperti Prancis, menyoroti aspek etika dan potensi diskriminasi. Penggunaan tes genetik yang pernah dipertanyakan secara ilmiah dan potensi stigmatisasi terhadap individu interseks menjadi kekhawatiran utama. Kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang definisi "wanita" dalam konteks olahraga dan bagaimana mencapai keseimbangan antara inklusi dan prinsip keadilan yang diterima semua pihak.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook