Jakarta - Rusia mencatat rekor kelam dalam perang melawan Ukraina. Sepanjang September 2026, sekitar 46.230 tentara Rusia dilaporkan tewas atau terluka. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang tahun dan mendekati target bulanan yang dicanangkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yaitu 50.000 korban per bulan.
Data dari militer Ukraina menyebutkan, puncak kerugian Rusia terjadi pada 28 September dengan 2.090 tentara tumbang dalam 24 jam. Sebagian besar korban berjatuhan akibat serangan drone FPV (First-Person View). Meski angka ini belum bisa diverifikasi independen, Ukraina mengklaim memiliki rekaman video setiap korban.
Di sisi lain, meski kehilangan banyak personel, Rusia terus berusaha merebut sisa wilayah Luhansk dan Donetsk. Namun, Korps Angkatan Darat Ketiga Ukraina berhasil menahan gempuran di sekitar Lyman melalui Operasi Vivaldi. Dalam fase ketiga operasi ini, Ukraina merebut kembali 176 kilometer persegi wilayah.
Komandan Korps, Brigadir Jenderal Andriy Biletsky, mengungkap taktik jitu mereka. Ukraina sempat berpura-pura menyerang dari barat untuk memancing Rusia membuang cadangan pasukan mereka secara sia-sia. Setelah itu, serangan utama dilancarkan dari utara. Uniknya, Ukraina juga memodifikasi kendaraan lapis baja Rusia yang direbut, mengisinya dengan bahan peledak, dan mengarahkannya kembali ke pertahanan Rusia.
Meski kalah di daratan, Rusia melampiaskan amarahnya ke kota-kota Ukraina. Serangan drone dan rudal menghantam infrastruktur energi, gedung sekolah, hingga pemukiman warga. Akibatnya, Kyiv mengalami pemadaman listrik besar-besaran pada 30 September setelah pembangkit listrik termal di wilayah tersebut dihantam drone.
Analisis Dampak: Pergantian strategi Rusia dari perang parit menjadi teror infrastruktur sipil menandakan frustrasi akibat gagal menembus pertahanan darat Ukraina. Bagi masyarakat sipil Ukraina, ancaman kematian kini tidak hanya datang dari garis depan, tetapi juga dari matinya layanan dasar seperti listrik dan air menjelang musim dingin. Sementara itu, tingginya angka korban di pihak Rusia berpotensi memicu ketidakstabilan politik internal dan memperkuat desakan mobilisasi massal yang tidak populer di kalangan warga Rusia.