Gelombang serangan dahsyat mengguncang Iran, diiringi ledakan besar di ibu kota Teheran dan beberapa kota strategis lainnya seperti Tabriz, Isfahan, dan Karaj. Namun, di tengah eskalasi konflik ini, Teheran secara tegas membantah adanya pembicaraan damai dengan Amerika Serikat, menampik klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebutkan adanya 'dialog produktif' untuk mengakhiri perang.
Serangan yang diklaim dilakukan oleh pasukan AS dan Israel ini menyasar sejumlah fasilitas vital. Media Iran, Fars News Agency, melaporkan dua fasilitas gas dan sebuah pipa di Isfahan serta pipa gas pembangkit listrik Khorramshahr di barat daya negara itu rusak parah. Ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Trump menunda rencana serangan pada infrastruktur listrik. Tak hanya itu, krisis kemanusiaan semakin memburuk; seorang profesor terkemuka bernama Saeed Shamaghdari, bersama kedua anaknya, tewas dalam serangan di kediaman mereka di utara Teheran. Shamaghdari diketahui merupakan pengajar teknik di Universitas Sains dan Teknologi Iran.
Kepala layanan darurat Iran, Jafar Miadfar, mengungkapkan data memilukan: 208 anak-anak tewas sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Sebanyak 168 di antaranya adalah korban serangan rudal AS di sebuah sekolah khusus perempuan di kota Minab pada awal konflik, insiden yang oleh kelompok hak asasi manusia diserukan untuk diinvestigasi sebagai kejahatan perang. Secara total, lebih dari 1.500 warga sipil dilaporkan tewas di seluruh negeri menurut pemerintah Iran.
Di sisi diplomatik, situasi justru memanas. Meskipun Menteri Luar Negeri Iran, Abass Araghchi, sempat melakukan pembicaraan dengan sejumlah negara dalam 24 jam terakhir, termasuk Mesir, Pakistan, dan Oman, para pejabat senior Iran dengan tegas menepis klaim Trump tentang negosiasi dengan AS. Esmaeil Kowsari, anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, bahkan memperingatkan agar pemerintah berhati-hati sebelum berdialog dengan AS, mengingat 'ini bukan kali pertama mereka berbohong soal negosiasi' dan sifat mereka yang 'menciptakan perpecahan'.
Kondisi ini menunjukkan bahwa narasi perdamaian yang diembuskan Washington masih jauh dari kenyataan di lapangan. Penargetan infrastruktur energi dan tokoh intelektual Iran mengindikasikan upaya sistematis untuk melumpuhkan kapasitas negara tersebut, bukan sekadar operasi militer. Sementara itu, tingginya angka korban sipil, terutama anak-anak, menggarisbawahi urgensi intervensi kemanusiaan dan investigasi independen untuk mencegah krisis semakin berlarut-larut.