Washington, DC – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim bahwa kesepakatan damai dengan Iran yang akan diteken di Jenewa pada Jumat mendatang bakal sukses besar. Trump menyebut nota kesepahaman (MoU) itu “sangat kuat” dan akan menjadi “tembok” yang menghalangi Iran memiliki senjata nuklir.
Pernyataan ini langsung memicu perdebatan. Pasalnya, selama masa pemerintahannya, Trump justru yang merobek kesepakatan nuklir era Obama (JCPOA) pada 2018. Kini, ia tiba-tiba memuji kesepakatan baru yang konon sedang dirundingkan. Analis menilai ini adalah manuver politik Trump untuk mengklaim kemenangan diplomatik menjelang pemilu, sekaligus mengkritik pemerintahan Biden yang dianggapnya lemah terhadap Iran.
Media lain melaporkan bahwa isi kesepakatan ini belum dipublikasikan secara resmi. Namun, sumber dari kalangan diplomat Eropa menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut lebih longgar dibanding JCPOA. Iran diizinkan memperkaya uranium hingga tingkat tertentu, namun dengan pengawasan ketat IAEA. Jika benar, Trump mungkin ‘menjual’ kesepakatan ini sebagai kemenangan, tapi kritikus menyebutnya sebagai pengakuan bahwa Iran sudah dekat dengan ambang batas nuklir.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi publik global, pernyataan Trump ini menambah kebingungan. Setelah bertahun-tahun kebijakan AS soal Iran naik-turun, masyarakat jadi sulit membedakan mana yang benar-benar solusi dan mana yang sekadar gimmick politik. Bagi Indonesia, ketidakstabilan di Timur Tengah akibat isu nuklir Iran bisa berdampak pada harga minyak dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.