Selama dua tahun terakhir, Sudan terus dirobek-robek oleh konflik brutal antara militer pemerintah dan Rapid Support Forces (RSF), menelan puluhan ribu korban jiwa dan membuat jutaan lainnya terpaksa mengungsi. Ironisnya, di tengah krisis kemanusiaan yang memuncak, dukungan internasional justru terlihat kian menipis, membuat nasib para korban konflik berada di ujung tanduk.
Noha Kamal (34), penderita diabetes dan ibu tiga anak, adalah salah satu potret nyata dari penderitaan tersebut. Ia terpaksa melarikan diri dari Kadugli menuju Kosti di negara bagian White Nile dengan harapan menemukan bantuan dari PBB. Namun, realita berkata lain. Alih-alih pusat penerimaan PBB, Noha justru dituntun ke sebuah sekolah yang disulap menjadi penampungan darurat. Tempat itu dikelola oleh komite lingkungan setempat, yang sepenuhnya bergantung pada donasi dari diaspora Sudan di Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar.
“Saya merasa tersesat, obat diabetes saya habis di jalan,” kenang Noha. “Pada akhirnya, warga kota dan komite lingkunganlah yang menolong kami. Mereka berbagi apa yang mereka punya, meski kondisi mereka sendiri tidak mudah. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana kami akan bertahan hidup.”
Kisah Noha bukan satu-satunya. Ratusan ribu warga Sudan dari South Kordofan dan Darfur Utara berbondong-bondong mencari perlindungan di kota-kota seperti Kosti, yang sejatinya sudah kepayahan akibat perang. Di sana, mereka mendapati infrastruktur kemanusiaan internasional yang selama ini diharapkan, nyaris tak berfungsi.
Kondisi ini diperparah oleh keputusan sejumlah donor pemerintah Barat yang tiba-tiba memangkas bantuan. Clementine Nkweta-Salami, Koordinator Kemanusiaan PBB di Sudan, bahkan pernah menyebut pemotongan ini sebagai “bencana”. Praktis, ratusan komite relawan lokal, seperti “For Cost” di Kosti, kini menjadi garda terdepan. Mereka bahu-membahu menyediakan tempat tinggal, makanan, hingga layanan kesehatan dasar, mencoba meringankan beban para pengungsi.
Meski heroik, upaya relawan ini menghadapi tantangan besar. Dengan jutaan orang yang kini menghadapi ancaman kelaparan parah, ketergantungan penuh pada inisiatif lokal dan diaspora jelas tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang. Sudan kini menghadapi “krisis yang terlupakan”, di mana kebutuhan akan bantuan sangat mendesak namun perhatian dan dukungan dunia justru mengendur. Tanpa intervensi global yang lebih besar dan terkoordinasi, risiko bencana kemanusiaan yang lebih parah di Sudan semakin nyata.