GELOMBANG MIGRAN CEUTA: 72 TEWAS, SPANYOL SIAGA SATU - Berita Dunia
← Kembali

GELOMBANG MIGRAN CEUTA: 72 TEWAS, SPANYOL SIAGA SATU

Foto Berita

CEUTA, SPANYOL - Tragedi kemanusiaan terjadi di perbatasan Eropa. Sebanyak 72 orang dilaporkan tewas setelah sekitar 60.000 migran membanjiri wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, dalam beberapa hari terakhir. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring proses identifikasi yang masih berjalan oleh otoritas setempat.

Juru bicara pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez, mengonfirmasi penemuan lima jenazah tambahan di garis pantai pada Minggu (18/8). Sebelumnya, kantor berita EFE melaporkan jumlah korban jiwa berpotensi meningkat karena tim penyelamat masih mencari korban di laut. Korban tewas terdiri dari mereka yang tenggelam dan terluka parah saat mencoba memanjat pemecah ombak serta pagar perbatasan.

Krisis ini memicu reaksi berantai di tingkat Uni Eropa. Sebanyak 22 negara anggota UE mendesak aksi terkoordinasi untuk pengamanan perbatasan. Italia bahkan mengambil langkah drastis dengan menangguhkan perjanjian bebas visa Schengen dengan Spanyol. Sementara itu, otoritas Spanyol memasang penghalang terapung di lepas pantai Ceuta untuk mencegah gelombang kedatangan berikutnya.

Kementerian Dalam Negeri Maroko menyebut lonjakan migrasi massal ini dipicu oleh informasi palsu di media sosial, jaringan perdagangan manusia, dan salah tafsir atas keputusan pengadilan Spanyol yang melarang deportasi cepat migran yang dicegat di laut. Dari sisi Maroko, mereka mengonfirmasi 11 kematian, sebagian besar akibat tenggelam.

Pemimpin Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengungkapkan kamar mayat setempat telah menerima 88 jenazah, termasuk korban dari upaya penyeberangan berbahaya pada malam hari dalam dua pekan terakhir. Otoritas Maroko juga disebut tengah mengevakuasi jenazah dari laut, namun data resmi belum dirilis.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, memastikan bahwa hampir seluruh migran yang masuk telah kembali ke Maroko. Namun, kesedihan mendalam masih menyelimuti warga setempat. "Sangat menyakitkan melihat anak muda mati di laut. Tidak adil jika di tahun 2026, ibu-ibu dengan bayi usia dua bulan harus menyeberang laut hanya untuk mati," ujar Karima Abenaz, warga Prancis yang memiliki keluarga di Maroko.

Analisis Dampak: Insiden ini menjadi ujian terbesar bagi kebijakan imigrasi Uni Eropa dalam satu dekade terakhir. Pakar keamanan menilai krisis ini menunjukkan celah besar dalam sistem perbatasan Eropa, terutama di wilayah kantong yang secara geografis berada di Afrika namun secara politik menjadi bagian dari UE. Langkah Italia menangguhkan Schengen berpotensi memicu efek domino di negara-negara anggota lain, mengancam prinsip pergerakan bebas yang menjadi fondasi integrasi Eropa. Selain itu, tragedi ini menyoroti kegagalan pendekatan keamanan semata tanpa solusi ekonomi jangka panjang bagi negara-negara asal migran.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook