Jakarta, CNN Indonesia – Ketegangan di Timur Tengah memanas lagi. Iran melancarkan serangan balasan ke lima negara sekaligus, setelah Amerika Serikat (AS) menggempur wilayah mereka selama enam malam berturut-turut.
Serangan Iran ini menargetkan Bahrain, Qatar, Oman, Yordania, dan Suriah. Yang menarik, serangan ini tidak hanya menyasar pangkalan militer AS, tapi juga fasilitas sipil di negara-negara tetangga.
Menurut laporan AFP, korban jiwa di pihak Iran akibat gempuran AS sudah mencapai 38 orang tewas dan lebih dari 400 luka-luka. Angka ini terus bertambah setelah serangan terbaru AS yang menewaskan sedikitnya delapan orang di Iran pada Jumat pagi.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan gelombang ke-13 serangan balasan ke pangkalan-pangkalan AS. Berikut rincian serangan di masing-masing negara:
- Bahrain: Sirine peringatan serangan udara berbunyi, pemerintah setempat meminta warga tetap tenang.
- Qatar: Seorang anak terluka akibat terkena serpihan rudal yang jatuh saat dicegat di atas Doha. Semua proyektil Iran berhasil dicegat Kementerian Pertahanan Qatar.
- Oman: IRGC mengklaim telah menghancurkan radar kendali udara AS di wilayah Ghanim dan radar kendali maritim di Selat Hormuz. Sebuah kapal tanker juga terkena proyektil tak dikenal di dekat perairan Oman.
- Kuwait: Pangkalan militer AS di Kuwait menjadi sasaran. IRGC mengaku berhasil menghantam radar pertahanan rudal, gudang senjata, dan dua peluncur rudal HIMARS milik AS.
- Yordania: Militer Yordania mengaku berhasil menembak jatuh tiga rudal Iran yang diarahkan ke negara mereka.
Analisis Dampak: Eskalasi ini sangat berbahaya. Iran tidak lagi hanya berperang melalui proksi, tapi secara langsung menyerang negara-negara Teluk yang selama ini jadi 'halaman belakang' AS. Ini bisa memicu perang regional terbuka. Yang lebih mengkhawatirkan, serangan ke Qatar dan Oman menunjukkan bahwa Iran tidak segan membahayakan warga sipil di negara tetangga hanya untuk 'mengusir' AS. Dunia kini menunggu langkah balasan AS selanjutnya, yang berpotensi memicu konflik berskala lebih besar.