Empat tahun sudah berlalu sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina. Konflik yang awalnya diprediksi singkat kini menjelma jadi peperangan sengit tanpa ujung, menyisakan pertanyaan besar: akankah perdamaian segera tiba? Mantan Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba, angkat bicara soal ini, mengungkap kondisi pahit dan strategi Rusia yang bisa jadi tak terduga.
Dalam wawancara eksklusifnya dengan Al Jazeera, Kuleba secara jujur mengakui bahwa ekspektasi perang singkat di awal invasi Februari 2022 silam telah pupus. Kini, Ukraina dihadapkan pada realita konflik yang berlarut-larut. Kuleba, yang menjabat Menlu hingga awal 2024, menegaskan bahwa optimisme harus berpijak pada kenyataan, bukan sekadar harapan kosong.
Menurutnya, kecil kemungkinan akan ada gencatan senjata dalam waktu dekat, setidaknya sampai musim dingin di Ukraina benar-benar berakhir—bukan secara kalender, melainkan kondisi cuaca. Kuleba menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin sengaja menghancurkan sistem energi Ukraina, membuat jutaan warga hidup dalam kegelapan dan kedinginan. Tujuannya bukan untuk bernegosiasi damai, melainkan untuk mematahkan semangat perlawanan mereka.
Prospek gencatan senjata mungkin muncul setelah musim dingin lewat, namun itupun sangat tipis. Ada dua faktor penentu utama: pertama, kemampuan Rusia meraih kemajuan signifikan di medan perang. Jika Rusia berhasil, mereka tak akan punya motivasi untuk menghentikan pertempuran. Kedua, apakah ekonomi Rusia akan limbung di bawah tekanan berbagai masalah yang menumpuk.
Lebih lanjut, Kuleba skeptis terhadap itikad baik Rusia dalam perundingan. Sepanjang sejarahnya, Rusia seringkali memanfaatkan meja negosiasi bukan untuk mencapai perdamaian sejati, melainkan sebagai alat untuk menguji sejauh mana mereka bisa menekan lawan tanpa harus bertempur langsung. Bagi Putin, negosiasi hanyalah sarana untuk memahami teknis gencatan senjata, tanpa ada keinginan tulus untuk mewujudkannya. Presiden Rusia diyakini masih percaya diri bisa memenangkan perang di medan tempur dan mampu mengatasi masalah ekonomi dalam negerinya. Strateginya jelas: Ukraina akan tumbang sebelum dirinya.
Pandangan Kuleba ini sejalan dengan perkembangan di lapangan. Hingga kini, bantuan militer dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, memang menunjukkan adanya pasang surut. Paket bantuan seringkali tertahan karena tarik ulur politik internal, memberikan celah bagi Rusia untuk terus maju, seperti terlihat dari keberhasilan mereka merebut Avdiivka baru-baru ini. Di sisi lain, meskipun dihantam sanksi ekonomi bertubi-tubi, ekonomi Rusia terbukti cukup resilien. Mereka berhasil mengalihkan fokus perdagangan ke negara-negara non-Barat seperti Tiongkok dan India, serta menggenjot produksi industri militer. Ini memungkinkan Putin mempertahankan mesin perangnya dan keyakinannya bahwa waktu ada di pihaknya. Situasi ini tentu saja membawa dampak berat bagi masyarakat Ukraina. Bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang perang, ancaman kehancuran infrastruktur, serta krisis energi dan pangan menjadi kenyataan pahit sehari-hari, memaksa jutaan warga mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian. Dengan kondisi seperti ini, jalur menuju perdamaian sejati masih terlihat sangat terjal dan panjang.