SYDNEY, BBC NEWS – Tragedi berdarah mengguncang Australia. Seorang pria bersenjata api melepaskan tembakan membabi buta ke arah kerumunan yang sedang merayakan Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney, Minggu (15/12) lalu. Peristiwa ini menjadi salah satu penembakan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir.
Kepolisian New South Wales mengonfirmasi total 12 orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk pelaku yang ditembak mati oleh aparat di tempat kejadian. Sebanyak 29 orang lainnya dilarikan ke rumah sakit, dan seorang anak kecil dilaporkan termasuk di antara korban luka. Korban termuda yang tewas adalah seorang bocah perempuan bernama Matilda, 10 tahun, yang membuat publik Australia berduka.
Ratusan warga kemudian membanjiri Pantai Bondi dengan membawa bunga dan lilin untuk memberikan penghormatan terakhir. Suasana haru menyelimuti pemakaman pertama yang digelar untuk para korban, di mana Rabbi Ulman, mertua dari Rabbi Eli Schlanger, menyebut kepergian menantunya sebagai 'kehilangan yang tak terkatakan'.
Rekaman udara dan video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan detik-detik mencekam saat pelaku melepaskan tembakan dari sebuah jembatan di area parkir. BBC Australia menganalisis rekaman selama 11 menit yang menunjukkan bagaimana pantai ikonik itu berubah menjadi lokasi horor dalam sekejap.
Analisis Dampak: Serangan ini membuka kembali luka lama Australia terkait keamanan publik dan regulasi senjata api. Meski negara ini memberlakukan undang-undang senjata yang sangat ketat pasca tragedi Port Arthur pada 1996, insiden ini menunjukkan bahwa ancaman teror dan kekerasan bersenjata masih nyata. Komunitas Yahudi di Bondi, yang menjadi sasaran utama, kini hidup dalam ketakutan, mengingat serangan terjadi di acara keagamaan mereka. Pemerintah Australia pun mendapat tekanan untuk memperketat pengawasan terhadap kelompok ekstremis dan meningkatkan keamanan di tempat-tempat ibadah serta acara publik.