Kathmandu, Nepal – Sebuah keajaiban terjadi di lereng mematikan Gunung Everest. Hillary Dawa Sherpa, seorang pemandu gunung berusia 57 tahun, ditemukan hidup setelah dinyatakan hilang selama enam hari. Tim pembersih yang tengah memunguti sampah di ketinggian justru melihatnya merangkak di kaki Khumbu Icefall, salah satu zona paling berbahaya di puncak tertinggi dunia itu.
Saat ditemukan, keluarga Hillary Dawa sudah bersiap menjalani ritual pemakaman. Meski menderita radang dingin dan kelelahan parah, ia masih bisa duduk dan berbicara sebelum dilarikan ke rumah sakit di Kathmandu. Kisahnya langsung menjadi sorotan media internasional dan mengguncang komunitas pendaki gunung.
Namun, di balik keajaiban ini, muncul pertanyaan serius. Hillary Dawa awalnya dipekerjakan sebagai juru masak di Camp 2 oleh perusahaan Himalayan Traverse Adventure (HTA), bukan sebagai pemandu. Ia tiba-tiba diminta menggantikan pemandu lain yang sakit di Base Camp karena 'ingin mendapat uang tambahan'.
Banyak yang mempertanyakan: kenapa seorang juru masak dibawa memandu klien ke puncak setinggi 8.849 meter? Kenapa pencarian baru dimulai tiga hari setelah ia hilang? Apakah karena ia hanya seorang pemandu, bukan klien? Keluarga Hillary Dawa sudah melaporkan HTA ke polisi dengan tuduhan kelalaian.
Pakar keselamatan pendakian menilai insiden ini membuka borok industri pariwisata ketinggian yang sedang booming. Banyak operator menawarkan paket murah dengan mengorbankan standar keselamatan, terutama bagi para Sherpa yang menjadi tulang punggung setiap ekspedisi. Nepal kini sedang menyelidiki praktik perekrutan di industri ini yang dinilai kerap abai terhadap nyawa.