Washington, DC – Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan adanya titik terang dalam negosiasi dengan Iran. Dalam kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada Selasa (15/4), Rubio menyatakan bahwa Teheran kini bersedia membahas aspek-aspek program nuklirnya yang sebelumnya dianggap tabu.
Rubio juga memberikan sinyal bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang jarang terlihat sejak serangan AS, justru menunjukkan keterlibatan lebih aktif dalam proses negosiasi ini. Rubio menyebut komunikasi dengan Khamenei masih dilakukan secara tertulis dan melalui perantara.
Perkembangan ini terjadi setelah AS dan Iran sepakat gencatan senjata pada 8 April lalu. Rubio menegaskan, syarat utama dari pihak AS adalah Iran harus membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—dan berkomitmen untuk merundingkan stok uranium yang diperkaya.
Meski ada kemajuan, Rubio mengingatkan bahwa ini bukan jaminan kesepakatan final. Ia menekankan bahwa pencabutan sanksi hanya akan terjadi jika Iran memberikan konsesi signifikan, bukan sekadar membuka Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengklaim negosiasi berjalan dengan 'kecepatan tinggi' dan optimis semuanya akan berakhir baik. Namun, media semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa Teheran masih mengkaji proposal terbaru dan belum berkomunikasi dengan AS dalam beberapa hari terakhir, menandakan sikap hati-hati mereka.
Analisis: Kesediaan Iran membahas nuklir adalah langkah diplomatik besar yang bisa meredakan ketegangan global. Jika berhasil, ini berpotensi menstabilkan harga energi dunia yang sempat melonjak akibat konflik. Namun, sikap saling curiga masih menjadi batu sandungan utama.