Insiden memilukan kembali terjadi di kawasan perbatasan Sudan-Mesir. Sebuah serangan udara yang diduga kuat dilakukan oleh militer Mesir menghantam lokasi penambangan emas tradisional di wilayah Jabal al-Uqaydat, Sudan Utara. Akibatnya, sebanyak 72 pekerja dilaporkan tewas dalam serangan yang menyasar warga sipil tersebut.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Khartoum, Emergency Lawyers, menuding pasukan Mesir sebagai pelaku penyerangan. Hingga berita ini diturunkan, pihak otoritas Mesir belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut. Gambar-gambar yang beredar dari lokasi kejadian memperlihatkan suasana kacau dengan jasad para korban yang dibungkus kain kafan.
Wilayah perbatasan ini memang dikenal rawan konflik. Sejak perjanjian kolonial tahun 1899 yang menetapkan paralel ke-22 sebagai batas wilayah, garis demarkasi fisik di lapangan seringkali tidak jelas. Kondisi ini diperparah dengan kekayaan kandungan emas di area tersebut, menciptakan ruang hampa keamanan dan hukum. Pakar hubungan perbatasan Mesir-Sudan, Abdul Kareem Al-Almin Ahmed, menilai ketiadaan kehadiran militer Sudan di wilayah itu membuat warga sangat rentan terhadap pelanggaran dari pihak luar.
Insiden ini bukan yang pertama. Pada Juni lalu, serangan drone dan artileri juga menghantam tambang emas di wilayah yang sama. Militer Mesir mengklaim operasi mereka dilakukan di dalam wilayah kedaulatan mereka untuk memberantas penyelundupan dan penambangan ilegal. Namun, tragedi berdarah ini kembali menyoroti daruratnya pengawasan dan demarkasi batas negara yang hingga kini masih menjadi sumber ketegangan berkepanjangan antara kedua negara.