GURU LIBYA MOGOK KERJA, SEKOLAH TERANCAM LAYU - Berita Dunia
← Kembali

GURU LIBYA MOGOK KERJA, SEKOLAH TERANCAM LAYU

Foto Berita

Libya sedang menghadapi gejolak besar di sektor pendidikan. Para guru di seluruh negeri resmi memperpanjang aksi mogok kerja mereka menjadi pemogokan terbuka tanpa batas waktu. Aksi ini dimulai sejak 13 September lalu, tepat pada hari pertama tahun ajaran baru seharusnya dimulai. Alih-alih mengajar di kelas, para guru justru menggelar aksi duduk di depan sekolah dan gedung pemerintahan di Tripoli.

Pemicu utama kemarahan ini adalah masalah klasik yang tak kunjung usai: kesejahteraan. Para pendidik mengeluh gaji mereka terus merosot, tunjangan yang tidak dibayar, hingga kondisi sekolah yang makin memprihatinkan. Mereka menuntut sistem penggajian yang seragam dan adil, karena saat ini terjadi disparitas (kesenjangan) pendapatan yang sangat jauh antar sektor pekerjaan. Tidak hanya soal uang, fasilitas sekolah pun dinilai memprihatinkan; mulai dari tidak adanya laboratorium komputer hingga meja kursi yang sudah rusak parah dan tidak layak pakai. Ironisnya, guru dan orang tua murid sering kali harus merogoh kocek sendiri untuk membeli peralatan sekolah.

Dampak dari aksi ini sangat luas. Ribuan siswa terpaksa kembali ke rumah dan kehilangan hak belajar mereka. Situasi ini menambah beban krisis ekonomi dan politik yang sudah mendera Libya sejak tumbangnya rezim Muammar Gaddafi pada 2011 silam. Yang lebih mengkhawatirkan, konflik ini tidak mengenal batas wilayah politik. Aksi mogok terjadi baik di wilayah barat yang dikuasai Pemerintahan Persatuan Nasional (GNU) pimpinan Abdul Hamid Dbeibah, maupun di wilayah timur yang dikuasai militer Khalifa Haftar.

Melihat eskalasi ini, serikat pekerja dari sektor lain mulai angkat bicara. Pada hari Minggu, beberapa serikat pekerja mengancam akan ikut bergabung dalam mogok kerja jika pemerintah tidak segera menggelar dialog untuk mengatasi krisis biaya hidup. Mereka menuntut adanya sistem pengupahan yang mempertimbangkan fluktuasi nilai tukar dinar terhadap dolar AS. Perdana Menteri Dbeibah pun dikabarkan telah menggelar rapat kabinet darurat untuk merespons krisis ini. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada solusi konkret yang terlihat di permukaan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook