TRAGEDI SPRINGFIELD: TOWN YANG JADI SIMBOL DEPORTASI - Berita Dunia
← Kembali

TRAGEDI SPRINGFIELD: TOWN YANG JADI SIMBOL DEPORTASI

Foto Berita

Kota kecil Springfield di Ohio kembali mencuri perhatian nasional menjelang pemilu midterm Amerika Serikat. Wilayah ini kini menjadi simbol kontroversial kebijakan imigrasi, terutama setelah Presiden Donald Trump sering menjadikannya contoh dampak buruk imigran terhadap keamanan dan ekonomi lokal. Trump bahkan pernah melontarkan klaim palsu soal imigran Haiti yang memakan hewan peliharaan warga—isu yang hingga kini membekas di masyarakat.

Di balik hiruk-pikuk politik, kisah tragis datang dari Pierre Damas Bel, pemuda 20 tahun asal Haiti. Ia tiba di Springfield pada 2024 untuk berkumpul dengan ayahnya, setelah lolos dari kekacauan politik dan geng bersenjata di negaranya. Bel masuk ke AS lewat program kemanusiaan era Biden yang kini sudah tidak berlaku, dan sempat mendapat status perlindungan sementara (TPS). Namun, Mahkamah Agung AS pada Juni lalu mengesahkan keputusan pemerintahan Trump untuk mencabut TPS bagi sekitar 350.000 warga Haiti.

Bel kemudian diperintahkan melapor ke kantor ICE dan dipasangi gelang kaki pemantau deportasi. Ia mengungkapkan rasa malu dan terhina di media sosial. Pada 31 Agustus, Bel memarkir mobilnya di pinggir jalan tol dekat Springfield, lalu menabrakkan diri ke lalu lintas dan tewas. Keluarganya menuding gelang kaki itu sebagai pemicu depresi berat yang dialaminya. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) belum memberi tanggapan resmi, sementara ICE menegaskan bahwa berada di AS secara ilegal adalah pilihan, dan deportasi sukarela dengan kompensasi $2.600 juga merupakan opsi.

Kasus Bel menambah daftar panjang dampak sosial dari kebijakan imigrasi yang keras. Springfield sendiri selama ini dikenal sebagai kota yang bergantung pada tenaga kerja imigran untuk mengisi sektor industri dan jasa dengan upah rendah—sebuah siklus yang lazim terjadi di banyak kota industri di AS. Kematian Bel memicu perdebatan tentang kemanusiaan di balik penegakan hukum imigrasi, serta menjadi pengingat bahwa di balik statistik deportasi, ada nyawa dan kisah manusia yang rentan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook