BARCELONA - Spanyol dan China semakin mesra. Perdana Menteri Pedro Sanchez sudah empat kali berkunjung ke Beijing dalam empat tahun terakhir, dan mendorong Uni Eropa untuk memperbaiki hubungan dengan China. Langkah ini memicu kemarahan sejumlah negara Eropa yang menganggap Beijing sebagai rival strategis.
Ketegangan ini terlihat jelas dalam gelaran festival La Merce di Barcelona. Untuk pertama kalinya, sebuah kota Asia - Shanghai - diundang sebagai tamu kehormatan. Pertunjukan barongsai, akrobat, dan lampion terbang China mewarnai jalanan kota yang biasanya identik dengan tradisi Catalan. Wakil Wali Kota Shanghai, Lu Shan, hadir langsung dan menyebut kedua budaya punya "semangat yang sama" meski berbeda bentuk.
Namun kehangatan ini tidak dibagi seluruh Eropa. Jerman dan Prancis justru bersatu untuk mengambil sikap lebih agresif terhadap China. Mereka ingin memberi Brussels kekuatan untuk menutup pasar EU dari produk China yang disubsidi, menyusul defisit dagang yang diklaim mencapai 1 miliar euro per hari. Negara Eropa lain juga khawatir dengan kedekatan China ke Rusia, yang diyakini membantu Moskow mempertahankan agresi militernya di Ukraina.
Dampaknya bagi masyarakat: Ketegangan ini bisa mempengaruhi harga barang impor dari China di Eropa, termasuk elektronik dan kendaraan listrik. Jika EU memberlakukan tarif tinggi, konsumen Eropa harus siap merogoh kocek lebih dalam. Sementara bagi Indonesia, situasi ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat posisi sebagai mitra dagang alternatif, atau justru ancaman jika China mengalihkan ekspornya ke Asia Tenggara.