Jakarta – Timnas Meksiko, atau yang akrab disapa El Tri, punya sejarah pahit di Piala Dunia. Mereka selalu kandas di babak 16 besar dalam tujuh edisi turnamen beruntun sejak 1994 hingga 2018. Fenomena ini bahkan dijuluki 'Kutukan El Quinto Partido' atau 'Pertandingan Kelima'—sebutan untuk kegagalan mereka menembus perempat final.
Namun, menjelang Piala Dunia 2026, ada angin segar. Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada. Ini menjadi ketiga kalinya mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia, setelah 1970 dan 1986—dan di dua edisi itulah mereka satu-satunya kali berhasil mencapai perempat final.
Pelatih Javier 'Vasco' Aguirre percaya faktor kandang bisa jadi pembeda. Ia bahkan mengingatkan pemainnya bahwa keunggulan bermain di depan pendukung sendiri 'tak ternilai harganya', merujuk pada kesuksesan Inggris juara di kandang sendiri pada 1966. Aguirre sendiri pernah merasakan pahitnya tersingkir di babak 16 besar saat menjadi pemain di Piala Dunia 1986, dalam laga kontroversial melawan Jerman Barat.
Kini, di periode ketiganya menukangi timnas, Aguirre membawa skuad yang solid. Meksiko mengandalkan permainan umpan cepat dengan motor serangan dari gelandang Alvaro Fidalgo dan Alexis Vega, serta kecepatan sayap Roberto Alvarado dan Cesar Huerta. Di lini depan, Raul Jimenez masih menjadi andalan meski sempat mengalami cedera kepala serius pada 2020.
Meski begitu, ada catatan kritis. Aguirre pernah dianggap meremehkan AS saat tersingkir di Piala Dunia 2002, dan melakukan blunder taktik melawan Argentina di 2010. Bisakah ia mematahkan kutukan dan sejarah buruk di edisi kali ini?
Analisis Dampak: Keberhasilan Meksiko lolos dari babak 16 besar bukan hanya soal gengsi, tapi juga berdampak pada psikologis sepak bola Amerika Utara. Jika El Tri sukses, ini akan memecahkan mitos panjang yang membebani generasi pemain dan suporter. Dari sisi tuan rumah, performa impresif Meksiko bisa meningkatkan antusiasme dan potensi ekonomi pariwisata selama turnamen berlangsung.