Armenia menggelar pemilihan parlemen yang menjadi sorotan global. Warga negara Kaukasus Selatan ini dihadapkan pada dua pilihan besar: Perdana Menteri Nikol Pashinyan yang didukung oleh Presiden AS Donald Trump, atau partai-partai yang menginginkan hubungan erat dengan Rusia.
Pemilu ini bukan sekadar kontestasi politik dalam negeri. Moskow, Washington, dan Brussel mengawasi ketat karena Armenia menjadi titik pertarungan pengaruh geopolitik. Rusia berkepentingan mempertahankan dominasinya di wilayah bekas Soviet, sementara AS dan Uni Eropa ingin memperluas pengaruh demokrasi Barat di kawasan tersebut.
Analis dari Regional Studies Center, Richard Giragosian, menilai hasil pemilu ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri Armenia ke depan. Kenneth Roth dari Princeton University menambahkan bahwa pilihan rakyat Armenia akan menjadi indikator kekuatan tarik-menarik antara blok Barat dan Rusia di kawasan yang rawan konflik.
Chris Weafer dari Macro-Advisory menekankan bahwa dampak ekonomi juga tak kalah penting. Armenia bergantung pada energi dan keamanan dari Rusia, namun juga membutuhkan investasi dan reformasi dari Barat. Keputusan pemilih akan menentukan nasib ekonomi dan stabilitas negara tersebut.