Kuba, negeri di Karibia, sedang menghadapi salah satu krisis terparah dalam sejarahnya. Seluruh negeri dihantam pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan bahan bakar yang ekstrem, dan ketidakpastian politik yang kian memanas. Situasi ini diperparah dengan tekanan besar dari Amerika Serikat, yang dikhawatirkan bisa berujung pada ancaman militer.
Kondisi di Kuba saat ini disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Jutaan warganya harus hidup dalam kegelapan dan kesulitan harian akibat krisis energi yang melumpuhkan. Akarnya? Kebijakan Amerika Serikat yang secara de facto menerapkan blokade minyak, memutus pasokan energi vital bagi pulau tersebut.
Sejak Januari lalu, pengiriman bahan bakar ke Kuba nyaris terhenti total. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan tidak akan ada lagi minyak atau dana dari Venezuela, sekutu dekat Kuba. Tak cukup sampai di situ, Trump juga mengeluarkan ancaman tarif bagi negara manapun yang berani memasok bahan bakar ke Kuba. Akibatnya, sebagian besar pasokan minyak yang diandalkan Kuba untuk listrik dan transportasi publik kini mandek.
Satu-satunya kapal tanker yang berhasil mencapai Kuba baru-baru ini adalah kapal Rusia yang membawa 730.000 barel minyak. Namun, para analis ragu apakah pasokan tunggal ini akan cukup untuk mengatasi krisis energi yang begitu parah di seluruh pulau.
Dampak kelangkaan bahan bakar ini sangat masif. Infrastruktur Kuba yang memang sudah rapuh kini benar-benar kolaps. Hanya dalam satu bulan, Maret, Kuba mengalami dua kali pemadaman listrik total skala pulau, ditambah dengan pemadaman regional yang tak terhitung. Hampir 10 juta penduduk Kuba hidup dalam kegelapan, dengan pemadaman yang bisa berlangsung hingga 15 jam sehari di Havana, bahkan lebih lama lagi di pedesaan.
Kehidupan sehari-hari masyarakat pun ikut ambruk. Sistem air terganggu, distribusi makanan macet, tumpukan sampah menggunung di jalanan Havana karena truk pengangkut tak punya bahan bakar. Rumah sakit terpaksa membatasi operasi, transportasi umum lumpuh, dan banyak warga terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak dan memanaskan air. Wartawan Ed Augustin menggambarkan krisis ini 'benar-benar menghancurkan setiap sendi kehidupan'.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan telah mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi 'keruntuhan' kemanusiaan di Kuba akibat kelangkaan bahan bakar ini. Di tengah situasi genting tersebut, ancaman dari AS semakin menambah ketegangan. Presiden Trump, belum lama ini, mengisyaratkan kemungkinan aksi militer. 'Saya membangun militer yang hebat ini... dan Kuba adalah berikutnya,' ujarnya. Pernyataan ini jelas memicu kekhawatiran besar tentang masa depan kepemimpinan Kuba dan kemungkinan perubahan politik yang drastis.