JAKARTA - Strategi Partai Republik untuk mengubah peta distrik Kongres Florida demi keuntungan elektoral justru berbuah bumerang. Dalam hasil pemilihan sela yang mencerminkan gelombang kemenangan besar Demokrat secara nasional, kubu Republik harus menerima kenyataan pahit: upaya mereka merekayasa batas wilayah (redistricting) tidak berhasil membendung laju suara biru.
Kemenangan Demokrat di Florida menjadi sorotan karena terjadi tepat di wilayah yang sebelumnya 'diamankan' melalui pemetaan ulang. Kathy Castor berhasil mempertahankan kursi Distrik ke-14 dengan lonjakan suara Demokrat yang signifikan. Selain itu, kandidat pendatang baru Pia Dandiya menang di Distrik ke-22, dan Jared Moskowitz mengamankan Distrik ke-25. Sementara itu, persaingan sengit masih terjadi di Distrik ke-9 antara petahana Darren Soto dan penantang dari Republik, Dan Green, dengan Soto unggul tipis.
Hasil ini menjadi pukulan telak bagi mantan Presiden Donald Trump dan sekutunya, Gubernur Florida Ron DeSantis. Sebelumnya, pada April lalu, mereka sengaja merombak peta distrik untuk memperbesar peluang Partai Republik mempertahankan kontrol DPR. Namun, data menunjukkan upaya tersebut gagal total. Alih-alih memperkuat basis, perubahan peta justru memicu resistensi pemilih dan memperlebar margin kemenangan bagi kandidat Demokrat di wilayah tersebut.
Analisis politik menilai kekalahan ini sebagai indikator kuat bahwa isu ekonomi dan ketidakstabilan global menjadi faktor penentu. Elektabilitas Trump yang sempat merosot tajam akibat dampak perang dan inflasi membuat upaya 'gerrymandering' (manipulasi batas distrik) tidak lagi efektif. Kemenangan di Florida ini melengkapi dominasi Demokrat yang berhasil menguasai kedua kamar Kongres, memberikan pukulan moral bagi Republik menjelang sisa masa jabatan.