Christa Pike, narapidana berusia 50 tahun di Tennessee, Amerika Serikat, secara mengejutkan selamat setelah menerima dua dosis obat suntik mati pentobarbital pada 30 September lalu. Insiden langka ini langsung memicu kembali perdebatan panas soal hukuman mati di Negeri Paman Sam.
Pike, yang telah mendekam 30 tahun di Penjara Deborah K. Johnson, kini dipindahkan kembali dari rumah sakit ke selnya untuk melanjutkan perawatan medis. Ia dijatuhi hukuman mati atas kasus pembunuhan sadis terhadap teman sekelasnya, Colleen Slemmer, pada 1995.
Kegagalan eksekusi ini terjadi di tengah kontroversi baru terkait rencana militer AS yang ingin menyiarkan secara langsung (livestream) eksekusi Nidal Malik Hasan, mantan psikiater tentara yang membunuh 13 orang di Fort Hood pada 2009. Rencana siaran langsung yang dijadwalkan 3 Desember mendatang ini menuai kecaman keras, bahkan dari pendukung hukuman mati. Senator Partai Republik Thom Tillis menyebutnya "di luar batas kewajaran", sementara Uskup Agung Paul S. Coakley menilainya sebagai "promosi biadab terhadap budaya kematian".
Menariknya, di Tennessee, kegagalan eksekusi Pike tidak membuat legislator Republik berpikir ulang soal hukuman mati. Mereka justru mendiskusikan metode alternatif seperti kursi listrik dan regu tembak. Meski dukungan hukuman mati di AS menurun dari puncaknya di era 90-an dan 10 negara bagian telah menghapusnya, eksekusi tetap berjalan. Sepanjang tahun ini, 30 orang telah dieksekusi dengan 8 lainnya dijadwalkan, mayoritas di Texas dan Florida. Survei Pew Research Center Juli lalu menunjukkan dua pertiga orang dewasa AS menganggap hukuman mati secara moral dibenarkan untuk pembunuh, namun 6 dari 10 orang menilai hukuman ini tidak menimbulkan efek jera, dan 7 dari 10 orang khawatir ada risiko orang tak bersalah dieksekusi.