SHANGHAI, KOMPAS.com – China kembali menunjukkan ambisinya di panggung global. Lewat aliansi baru bernama World Artificial Intelligence Cooperation Organisation (WAICO) yang beranggotakan 29 negara, Beijing disebut-sebut bakal menjadi 'dalang' di balik aturan main kecerdasan buatan (AI) dunia.
Presiden Xi Jinping dalam pidatonya di Konferensi AI Dunia di Shanghai, Jumat (5/7/2024), menegaskan bahwa pengembangan AI tidak boleh jadi milik segelintir negara. "AI bukanlah pertunjukan solo satu negara, melainkan simfoni kerja sama internasional," ujar Xi, yang disambut tepuk tangan para delegasi.
Pernyataan Xi itu jelas merupakan sindiran keras terhadap Amerika Serikat yang selama ini mendominasi pengembangan AI. China dan AS saat ini terlibat perang dingin teknologi, terutama di sektor semikonduktor dan chip AI.
WAICO sendiri resmi dibentuk pada 16 Juli 2024 dan berkantor pusat di Shanghai. Negara-negara anggota pendirinya didominasi negara Global Selatan seperti Indonesia, Brasil, Malaysia, Afrika Selatan, Rusia, dan Pakistan. Uniknya, tidak ada satu pun negara Eropa Barat atau AS dalam aliansi ini.
Para analis menilai China akan memanfaatkan WAICO sebagai kendaraan untuk mempengaruhi kebijakan AI di tingkat PBB. Tujuannya jelas: menantang hegemoni AS dalam menentukan standar keamanan dan etika AI global.
Xi juga menekankan pendekatan AI yang 'berpusat pada manusia' dan menolak konsep keamanan nasional yang berlebihan di bidang AI. "Kita harus memastikan AI selalu dalam kendali manusia," tegasnya.
Dampak Bagi Indonesia: Sebagai anggota pendiri WAICO, Indonesia berada di posisi strategis. Namun, ini juga menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, Indonesia bisa mendapatkan akses teknologi murah dari China. Di sisi lain, Jakarta harus hati-hati agar tidak terjebak dalam ketergantungan teknologi dan standar yang mungkin bertentangan dengan mitra Barat.