JAKARTA - Bank raksasa asal Inggris, HSBC, tengah tersandung kontroversi besar. Pasalnya, dana kelolaan mereka yang berlabel 'patuh syariah' atau Sharia-compliant diduga kuat mengalir ke perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan militer Israel. Langkah ini dianggap melanggar prinsip etika Islam yang mereka gaungkan.
Melansir laporan Al Jazeera, HSBC melalui Islamic Global Equity Index Fund-nya telah membelanjakan lebih dari USD 130 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun untuk membeli saham di sejumlah entitas yang terhubung dengan rantai pasok militer Israel. Investasi ini dilakukan di tengah situasi konflik Gaza yang masih memanas dan telah menelan banyak korban jiwa.
Dana yang seharusnya dikelola berdasarkan prinsip syariah ini justru mengalir ke nama-nama besar seperti Palantir (raksasa teknologi AS) hingga RTX (perusahaan senjata terbesar kedua dunia). Padahal, dalam situs resminya, HSBC berjanji bahwa dana ini bebas dari investasi pada sektor senjata dan barang-barang yang tidak etis secara syariah.
Praktik ini memicu pertanyaan keras soal integritas tata kelola bank tersebut. Pengamat keuangan syariah, Wahyu Jatmiko, menilai ada ketegangan yang jelas antara klaim kepatuhan syariah dengan realisasi investasi di lapangan. Skandal ini menjadi tamparan keras bagi industri keuangan Islam global, mengingat label 'Syariah' seharusnya menjamin investasi yang beretika dan berkeadilan, bukan sekadar label dagang.