Gelombang air bah menerjang Mozambik bagian selatan, memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka. Mereka kini menggantungkan hidup di kamp-kamp pengungsian darurat dengan kondisi yang jauh dari layak.
Banjir besar kembali melanda wilayah selatan Mozambik, memicu krisis kemanusiaan yang mendalam. Ribuan keluarga tak punya pilihan selain menyelamatkan diri dari genangan air bah, kini menempati kamp-kamp pengungsian sementara. Situasi ini, seperti yang dilaporkan langsung oleh jurnalis Al Jazeera di Chokwe, menunjukkan betapa rentannya kondisi masyarakat di sana.
Kondisi di kamp-kamp pengungsian, khususnya bagi kaum perempuan dan anak-anak, sangatlah memprihatinkan. Mereka kehilangan tempat tinggal, akses sanitasi terbatas, dan kebutuhan dasar sulit terpenuhi. Bencana alam ini bukan hanya merenggut harta benda, namun juga menciptakan trauma dan ancaman kesehatan serius bagi para pengungsi yang terpaksa bertahan dalam keterbatasan.
Mozambik memang dikenal sebagai salah satu negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, dengan banjir bandang menjadi ancaman tahunan. Berulang kali, fenomena ini memicu krisis pangan dan kesehatan yang berkepanjangan. Tanpa perhatian serius dari pemerintah setempat dan bantuan kemanusiaan internasional, ribuan jiwa ini akan terus terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ini menjadi alarm bagi kita semua tentang pentingnya adaptasi iklim dan kesiapan menghadapi bencana di wilayah-wilayah rentan dunia.