Washington, DC - Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi meminta Kimberly Guilfoyle mundur dari jabatannya sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Yunani. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Juru Bicara Gedung Putih, Katie Zacharia, dalam konferensi pers pertamanya yang berlangsung singkat.
Guilfoyle, mantan pembawa acara Fox News yang juga mantan istri Gubernur California Gavin Newsom, tersandung skandal etika yang menumpuk dalam sepekan terakhir. Laporan eksklusif dari The Wall Street Journal dan BBC mengungkap dugaan bahwa Guilfoyle meminta donor besar Trump, Eric Deters, untuk membayar tagihan kartu kreditnya yang menumpuk. Sebagai imbalan, ia menjanjikan akses ke pemerintahan Trump.
Dalam pesan teks yang bocor, Guilfoyle bahkan menulis, "Tidak akan muncul di mana pun jika kamu mengirim uang ke American Express," sambil mendesak Deters untuk segera menyelesaikannya. Pengacara Guilfoyle membantah keaslian pesan tersebut, dengan alasan uang itu adalah pembayaran untuk jasa konsultasi dan pidato sebelum ia menjabat.
Selain masalah keuangan, rekaman audio yang diperoleh media melaporkan Guilfoyle menyombongkan diri tentang hubungannya dengan taipan bisnis Yunani yang membiayai perjalanan mewah dan jet pribadinya. Ia bahkan dikabarkan pernah membual bahwa AS bisa menggulingkan pemerintah Yunani.
Presiden Trump mengaku tidak senang dengan apa yang dibacanya. "Saya tidak suka apa yang saya baca," ujar Trump kepada wartawan. Meski mengakui Guilfoyle telah melakukan pekerjaan dengan baik, Trump menegaskan bahwa ia tidak akan lagi berada di Yunani.
Dalam pernyataannya di platform X, Guilfoyle bersumpah akan membela nama baiknya dan menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan. Ia menyatakan akan selalu menjadi pendukung setia Trump, namun menegaskan tidak akan membiarkan tuduhan palsu mendefinisikan pengabdiannya selama puluhan tahun.
Analisis Dampak: Pemecatan ini menjadi pukulan telak bagi stabilitas diplomasi AS di Eropa Tenggara. Kekosongan kursi Duta Besar di Athena di tengah ketegangan geopolitik bisa menghambat komunikasi strategis Washington dengan sekutunya di NATO. Bagi masyarakat Yunani, insiden ini memunculkan keraguan terhadap integritas perwakilan AS, terutama dengan adanya klaim intervensi politik internal. Sementara di dalam negeri AS, kasus ini memperkuat narasi oposisi mengenai budaya korupsi dan 'transaksi' jabatan di lingkaran istana Trump.