NAIROBI, KENYA - Investigasi mendalam dari BBC Africa Eye mengungkap fakta mengejutkan di balik insiden berdarah yang terjadi saat upacara penghormatan terakhir untuk mantan Perdana Menteri Kenya, Raila Odinga, Oktober lalu. Tiga orang pelayat tewas tertembak, dan bukti forensik menunjukkan mereka bukanlah bagian dari kerusuhan yang memicu tembakan polisi.
Peristiwa nahas ini bermula ketika ribuan orang memadati Stadion Kasarani, Nairobi, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Odinga yang meninggal di India. Karena lonjakan massa yang tak terkendali, pihak berwenang terpaksa memindahkan lokasi dari gedung parlemen ke stadion berkapasitas 48.000 orang tersebut secara mendadak.
Dalam analisis terhadap lebih dari 1.500 gambar dan video, BBC menemukan bahwa ketiga korbanāEvans Kiche, Jidah Burka, dan Vincent Ogutuāberada di jarak 60 hingga 160 meter dari titik bentrokan. Mereka tertembak di bagian kepala dan dada, jauh dari pusat kerusuhan di mana polisi mengklaim massa melempar batu. Fakta ini mematahkan narasi awal kepolisian yang menyebut tindakan mereka sebagai respons terhadap ancaman fisik.
Menteri Dalam Negeri Kipchumba Murkomen membela tindakan polisi dengan alasan tekanan kerja yang tinggi dan pengamanan lokasi yang mendadak. Ia menyebut keputusan menembak adalah 'penilaian di tempat' oleh petugas. Namun, analisis forense BBC mencurigai adanya keterlibatan unit elit pengawal presiden dalam insiden fatal tersebut.
Hingga setahun setelah kejadian, Otoritas Pengawas Kepolisian Independen (IPOA) masih melakukan investigasi, namun belum ada satu pun petugas yang dimintai pertanggungjawaban. Dampaknya bagi masyarakat Kenya, insiden ini memicu kemarahan publik dan krisis kepercayaan terhadap institusi kepolisian, yang dianggap gagal melindungi warga dalam momen berkabung nasional.