Kekerasan terhadap warga asing kembali mengguncang Afrika Selatan. Seorang pria tak dikenal yang diperkirakan berusia akhir 30-an tewas dihakimi massa di pinggir jalan Durban. Insiden ini bermula saat dua orang menghampirinya, sebelum sekitar 50 orang menyerbu dan menghajar korban hingga tewas di lokasi. Polisi setempat masih menyelidiki motif di balik aksi main hakim sendiri ini dan belum bisa memastikan apakah insiden tersebut berkaitan langsung dengan gelombang protes anti-imigran yang sedang marak.
Sepanjang tahun ini, Afrika Selatan memang dilanda unjuk rasa menolak keberadaan imigran gelap. Aksi demo yang awalnya damai kerap berujung rusuh, seperti pembakaran toko dan mobil di Durban serta Soweto pada awal bulan ini. Kelompok penggerak demo, March and March, bahkan sempat memberi tenggat waktu hingga 30 Juni bagi semua pendatang tanpa dokumen untuk angkat kaki. Pemerintah setempat mengimbau agar aksi dilakukan secara damai, namun di sisi lain mereka mengklaim telah mendeportasi puluhan ribu warga asing dalam operasi penindakan tahun ini.
Dampak dari ketegangan ini tidak main-main. Beberapa negara seperti Zimbabwe, Nigeria, dan Ghana terpaksa memulangkan warganya karena khawatir menjadi korban kekerasan susulan. Nigeria bahkan menuding otoritas Afrika Selatan bertanggung jawab atas tewasnya dua warganya, sementara Ghana mencatat satu warganya tewas ditembak di Cape Town. Di balik aksi ini, akar masalahnya adalah kondisi ekonomi yang sulit, tingkat pengangguran tinggi, dan ketimpangan sosial yang membuat warga lokal mudah tersulut emosi dan menuduh imigran mengambil lapangan kerja mereka.