Jakarta - Pasar keuangan global dihebohkan dengan aksi langka yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Kedua negara mengonfirmasi telah melakukan intervensi bersama untuk menghentikan pelemahan nilai tukar yen yang sempat menyentuh level terendah dalam 40 tahun terakhir. Ini adalah intervensi bersama pertama sejak tahun 2011.
Kala itu, kedua negara juga melakukan aksi serupa untuk melemahkan yen setelah Jepang dilanda gempa bumi dan tsunami dahsyat. Kini, situasinya terbalik. Yen terlalu lemah, dan langkah ini diambil untuk mencegah aksi jual besar-besaran yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi global.
Menteri Keuangan Jepang dan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sama-sama berkomitmen untuk tidak ragu melakukan intervensi lanjutan. Menurut analis Oxford Economics, Shigeto Nagai, AS sepakat ikut campur karena aksi ini menguntungkan kepentingan nasional mereka dengan biaya yang relatif murah.
"Kedua negara diperkirakan akan terus melakukan intervensi secara bersama-sama dan berkala. Meski jumlahnya tidak terlalu besar, efek jera bagi spekulan justru lebih ampuh karena pasar akan terus waspada," ujar Nagai.
Intervensi ini menjadi sorotan karena AS biasanya enggan ikut campur dalam urusan nilai tukar mata uang asing. Namun, pelemahan yen yang ekstrem juga berisiko mendongkrak biaya pinjaman pemerintah AS, sehingga Washington pun berkepentingan untuk menstabilkannya.