Kota Dilling di Kordofan Selatan, Sudan, kini perlahan menata kembali hidupnya setelah dua tahun terisolasi dalam pengepungan brutal. Pasar-pasar yang sempat mati suri kini kembali bergeliat, menawarkan aneka kebutuhan pokok yang sempat langka. Namun, di balik geliat ekonomi yang perlahan pulih, bayangan krisis kemanusiaan yang mendalam masih membayangi warga, terutama dalam sektor kesehatan.
Sebelumnya, Dilling dikepung ketat oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan Sudan People’s Liberation Movement-North (SPLM-N). Pengepungan ini melumpuhkan pasokan vital dan memicu krisis kemanusiaan parah. Kini, berkat intervensi militer Sudan yang berhasil memecah blokade, barang-barang kebutuhan mulai mengalir, dan aktivitas pasar kembali normal. Pedagang lokal bersukacita karena sayur-mayur dan bahan pokok lainnya yang selama ini absen, kini kembali memenuhi lapak mereka.
Namun, pemulihan ekonomi hanyalah satu sisi mata uang. Akibat pengepungan brutal tersebut, infrastruktur kota rusak parah dan tabungan warga ludes tak bersisa. Sektor kesehatan menjadi yang paling terpukul. Rumah sakit utama di Dilling sangat kekurangan peralatan dan obat-obatan esensial. Kisah Abdelrahman, seorang penderita diabetes yang harus kehilangan kedua kakinya karena tak mendapat pasokan insulin selama pengepungan, menjadi gambaran betapa parahnya krisis ini, sebuah pengingat kelam akan penderitaan tak terperi.
Meski jalur akses sudah dikuasai militer Sudan, kondisi keamanan Dilling masih rentan. Warga dan otoritas setempat melaporkan serangan drone hampir setiap hari dari RSF dan SPLM-N, yang menargetkan infrastruktur dan permukiman sipil. Ini membuktikan bahwa meskipun blokade fisik telah berakhir, perang di Sudan masih menyisakan trauma mendalam dan ancaman nyata bagi masyarakat sipil. Pemulihan Dilling butuh lebih dari sekadar pembukaan pasar; stabilitas keamanan dan perhatian serius pada sektor kesehatan adalah kunci agar warga bisa benar-benar hidup normal kembali, lepas dari bayang-bayang konflik.