LOS ANGELES, AS — Suasana Piala Dunia 2026 yang seharusnya penuh sukacita justru diwarnai ketegangan diplomatik. Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, dan striker andalan mereka, Mehdi Taremi, secara terbuka mengkritik kebijakan Amerika Serikat yang dinilai merusak semangat sepak bola.
Dalam konferensi pers di Los Angeles, Ghalenoei menyatakan bahwa perlakuan AS terhadap timnya—termasuk penolakan izin markas latihan di wilayah AS dan pembatasan perjalanan—telah menciptakan atmosfer negatif. “Perilaku seperti ini akan berdampak buruk pada semangat sepak bola. Menang atau kalah, ini perasaan yang sulit,” ujarnya.
Senada dengan sang pelatih, Taremi—mantan striker Inter Milan—menyebut kebijakan visa AS telah meredupkan kegembiraan yang biasanya tercipta di setiap Piala Dunia. Ia mencontohkan penolakan masuk terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan, sebagai bukti bahwa masalah ini tidak hanya menimpa Iran. “Kami tidak merasakan pengalaman indah yang biasa kami bicarakan—kedamaian, kegembiraan. Ketegangan seperti ini merusak pesan FIFA,” kata Taremi.
Iran sendiri lolos ke Piala Dunia setelah memuncaki grup kualifikasi Asia dengan hanya satu kekalahan. Namun, partisipasi mereka sempat diragukan setelah serangan AS-Israel ke Iran dan serangan balasan Teheran. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyatakan bahwa tim Iran tidak disambut di AS demi keselamatan mereka sendiri.
Kesepakatan akhirnya tercapai: Iran akan berlatih di Meksiko dan hanya datang ke AS untuk bertanding. Tim juga menghadapi rencana protes dari aktivis oposisi Iran di Los Angeles. Situasi ini menambah daftar panjang kontroversi politik yang membayangi gelaran Piala Dunia 2026.
Analisis: Kasus ini menunjukkan bahwa politik dan olahraga sulit dipisahkan, terutama ketika negara tuan rumah memiliki ketegangan diplomatik dengan peserta. Bagi Indonesia yang juga aktif di kancah sepak bola global, ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya netralitas tuan rumah dalam menjamin keamanan dan kenyamanan semua tim. Jika tidak, semangat sportivitas dan persatuan yang diusung FIFA bisa ternoda.