SERANGAN MILITER AS: NARKO ATAU PEMBUNUHAN EKSTRA YUDISIAL? - Berita Dunia
← Kembali

SERANGAN MILITER AS: NARKO ATAU PEMBUNUHAN EKSTRA YUDISIAL?

Foto Berita

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan mematikan terhadap kapal yang diduga penyelundup narkoba di Laut Karibia, menewaskan tiga orang. Insiden ini menambah panjang daftar korban tewas dari kampanye militer AS sejak tahun lalu yang kini mencapai sekitar 150 jiwa.

Komando Selatan (SOUTHCOM) AS merilis rekaman serangan yang memperlihatkan sebuah kapal kecil meledak dan terbakar. Mereka mengklaim intelijen memastikan kapal tersebut melintas di jalur narkotika yang dikenal dan terlibat dalam operasi penyelundupan. AS berdalih setiap kapal yang ditargetkan membawa narkoba, namun bukti yang disajikan minim, hanya rekaman buram serangan.

Namun, kampanye ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Para pegiat hak asasi dan pakar PBB mengecam tindakan AS sebagai 'pembunuhan di luar hukum' yang berpotensi melanggar hukum internasional dan maritim. Mereka menegaskan, serangan tak beralasan di perairan internasional tanpa proses hukum yang semestinya adalah tindakan ilegal, dan telah menyampaikan keprihatinan serius kepada pemerintah AS.

Kampanye ini sendiri dimulai sejak September tahun lalu di tengah ketegangan AS dengan Venezuela, dan kini telah meluas hingga ke Samudra Pasifik timur. Ironisnya, tindakan ini berlanjut bahkan setelah peristiwa besar seperti penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Sementara itu, di tengah upaya Meksiko memberantas kekerasan kartel narkoba pasca tewasnya gembong kartel Jalisco New Generation, 'El Mencho', mantan Presiden AS Donald Trump terus menggembar-gemborkan 'perang melawan narkoba' di belahan Barat.

Namun, retorika Trump ini dinilai memiliki standar ganda. Di satu sisi, AS sering menuduh kritikusnya di Amerika Latin, termasuk Presiden Kolombia Gustavo Petro, terkait dengan perdagangan narkoba. Di sisi lain, Trump justru memberikan pengampunan kepada mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez, yang sebelumnya divonis 45 tahun penjara di AS atas tuduhan serupa. Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi dan motif sebenarnya di balik kampanye militer AS, serta efektivitasnya dalam menekan peredaran narkoba, yang hingga kini belum jelas dampaknya secara signifikan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook